147 WNI Bertahan di Beirut, Mahasiswa: Kami Khawatir Tak Bisa Kembali & Selesaikan Studi

  • Whatsapp

Sedikitnya 147 warga negara Indonesia (WNI) masih bertahan di Beirut, Lebanon, di tengah memuncaknya ketegangan pasca ledakan ribuan penyeranta (pager) pada hari Selasa (17/9) dan puluhan walkie-talkie pada hari Rabu (18/9). 

MDN – Sebagian WNI yang masih bertahan adalah mahasiswa, yang khawatir mereka tidak lagi dapat kembali ke Lebanon untuk menyelesaikan studinya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tidak lama setelah menetapkan status “Siaga I” di Lebanon pada 4 Agustus lalu, beberapa hari setelah serangan Israel ke dekat ibu kota Beirut yang menewaskan panglima Hizbullah Fuad Shukur, pemerintah Indonesia memulai evakuasi warga negara Indonesia (WNI). Evakuasi lewat udara yang dilakukan secara bertahap itu sudah berhasil memulangkan sedikitnya 25 WNI ke tanah air. Tetapi hingga saat ini masih ada sekitar 147 WNI yang bertahan, termasuk di antaranya 40an mahasiswa.

Ilham Akbar, mahasiswa asal Aceh yang sedang menyelesaikan studi pasca sarjana jurusan Ilmu Fiqih Muqaran di Beirut Islamic University di Beirut, Lebanon, mengatakan kepada VOA bahwa ada beberapa pertimbangan yang membuat mereka bertahan.

“Sekarang ini kebanyakan mahasiswa Indonesia ada di tahun akhir, jadi mereka khawatir jika harus dievakuasi tapi kondisi belum benar-benar genting, mereka akan susah kembali ke Lebanon.”

Ilham Akbar, mahasiswa pasca sarjana asal Aceh di Beirut (dok. pribadi).
Ilham Akbar, mahasiswa pasca sarjana asal Aceh di Beirut (dok. pribadi).

Dalam wawancara Rabu siang (18/9), Ilham, yang juga anggota Dewan Konsultan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Beirut, menjelaskan dilema yang mereka rasakan.

“Kami di sini mendapat izin tinggal yang setiap tahun diperbarui. Jika kita keluar dari Lebanon, kita diberi waktu enam bulan untuk memperpanjang izin tinggal. Tapi jika sudah lebih dari enam bulan, izin tinggal itu hangus, dan untuk masuk kembali harus apply visa. Mendapatkan visa ke Lebanon ini sangat sulit, terutama bagi mahasiswa. Jadi mereka yang sudah mendapatkan visa, izin tinggal dan identitas lain, mereka bisa dibilang orang-orang yang beruntung. Mereka enggan pulang jika harus kehilangan izin tinggal untuk menyelesaikan studi…. Jadi bukannya kami tidak takut, tapi jika situasi belum terlalu genting, lebih baik kami bertahan.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *