Lebih jauh Yosi Aprizal mengatakan sangat memahami pertimbangan-pertimbangan yang membuat 147 WNI, termasuk 40an mahasiswa tingkat akhir di berbagai kampus di Beirut, memutuskan bertahan. Meskipun demikian ia tetap berharap mereka berkenan kembali ke tanah air dulu jika situasi semakin memburuk, terutama menjelang tanggal 7 Oktober, yang menandai satu tahun serangan kelompok militan Hamas ke selatan Israel yang memicu serangan balasan Israel ke Gaza, dan beberapa wilayah lain.
“Kewajiban kita tentu memberi perlindungan warga. Kita sudah memberikan opsi karena tidak bisa memaksa. Kita sudah menyerukan agar bersedia dievakuasi, tetapi banyak yang bertahan dan akhirnya menandatangani ‘Surat Pertanggungjawaban Mutlak’ tidak bersedia dievakuasi sehingga keselamatan mereka pun menjadi tanggungjawab pribadi. Tetapi tentu saja kami tetap melakukan pendekatan dan mendorong agar mereka bersedia dipulangkan ke tanah air.”
Ilham Akbar mengatakan tidak semua berita tentang situasi di Lebanon yang dilaporkan media di tanah air benar. Itu sebabnya ia berulangkali menjelaskan kepada orang tuanya di Aceh, yang kerap menanyakan kondisinya di tengah situasi yang tidak menentu ini. “Saya selalu bilang kepada orang tua saya untuk percaya pada saya, dan mendoakan saya. Insya Allah semua akan baik-baik saja.”
Selain WNI & Staf KBRI, Ada 1.232 Personil TNI di UNIFIL Lebanon
Hingga laporan ini disampaikan, selain 147 WNI yang bertahan, masih ada pula 13 staf KBRI – di luar duta besar dan tiga perangkat – yang terus bertugas di kantor Baabda, Beirut.
Ada pula 1.232 personil TNI yang bergabung dalam Misi Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), yang mencakup 1.113 orang di selatan Lebanon dan 119 orang di KRI Diponegoro. [Red]#VOA








