Ketegangan Kembali Memuncak Pasca Serangan Lebanon 30 Juli
Kuasa Usaha Ad Interim di Beirut, Yosi Aprizal, mengatakan situasi keamanan di Lebanon sebelum serangan Israel yang menewaskan Fuad Shukur pada 30 Juli lalu sebenarnya mulai membaik.
“Memang sesekali terjadi serangan di bagian perbatasan selatan, tetapi di kota Beirut dan sekitarnya kondisi aman,” katanya.
Ilham membenarkan hal itu. Ia mengatakan masih dapat kuliah, belanja kebutuhan sehari-hari dan bahkan bersepeda kemana-mana.
Namun serangan itu seakan membangunkan macan tidur karena Hizbullah kemudian melancarkan serangan balasan tanpa henti ke Israel. Warga Lebanon, khususnya di ibu kota Beirut, baru terhenyak ketika ribuan penyeranta atau pager yang biasa mereka gunakan sebagai alat komunikasi meledak secara serentak pada hari Selasa (17/9), menewaskan sedikitnya 12 orang – termasuk dua anak-anak – dan melukai sekitar 2.800 orang lainnya.
Sehari kemudian terjadi ledakan walkie-talkie yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 450 orang lainnya. Beberapa ledakan walkie-talkie ini bahkan terjadi saat upacara pemakaman korban ledakan penyeranta.
Ditambahkannya, ada satu WNI menderita luka ringan karena berada dekat lokasi salah satu ledakan penyeranta, “tetapi hari ini kondisinya sudah pulih.”
WNI yang Memilih Bertahan Teken “Surat Pertanggungjawaban Mutlak”









