Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) mempertanyakan maksud dan tujuan pertemuan pimpinan Partai Gerindra dengan keluarga korban penghilangan paksa aktivis 1997-1998 di sebuah hotel dan dugaan pemberian uang “tanda tali kasih” yang dinilai sebagai upaya menghentikan proses hukum.
Pertemuan Diinisiasi oleh Korban Penculikan Yang Selamat dan Kini Jadi Staf Ahli KSP
Pertemuan yang menuai kecaman keras itu diinisiasi oleh Mugiyanto Sipin, salah seorang korban penculikan 1998 yang selamat dan kini menjabat sebagai tenaga ahli di Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP).
Pihaknya menerima bukti pertemuan tersebut dari Fajar Merah, anak Wiji Tukul, salah seorang aktivis yang hingga kini belum tidak diketahui nasibnya. Dari foto-foto pertemuan, nampak para korban penculikan seperti Mugiyanto Sipin dan Aan Rusdiyanto beserta keluarga korban aktivis yang hilang seperti Utomo D Raharjo dan Paian Siahaan.
“Pertama kali yang membuka pertemuan gelap tersebut adalah Fajar Merah anak dari Wiji Tukul yang mempertanyakan motif apa yang dilakukan oleh Mugiyanto dengan mengundang para keluarga korban. Fajar pula yang membuka bahwa dia akan diberikan bagian dari uang Rp1 miliar dari saudaranya diundang secara diam-diam juga oleh Mugiyanto,” ungkap Zaenal dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/8).
Fajar tidak mau menerima uang tersebut dan meminta untuk dikembalikan. Namun, saudaranya justru tidak mau mengembalikan uang itu.









