Kesan “like and dislike” atau suka dan tidak suka dalam menentukan siapa yang dilibatkan semakin santer terdengar.
Sejumlah kalangan menilai, Diskominfo seolah menjadikan preferensi pribadi sebagai dasar dalam menjalin kemitraan, bukan profesionalisme atau kontribusi media itu sendiri.
Riyawan, salah satu jurnalis lokal, menilai langkah tersebut sangat disayangkan. Menurutnya, meski undangan adalah hak prerogatif dinas, Diskominfo seharusnya menjunjung prinsip keadilan.
“Kalau memang tidak bisa mengakomodasi semua jurnalis, cukup undang perwakilan dari organisasi media. Jangan sampai malah menciptakan kesenjangan dan memperkeruh suasana,” ujarnya.








