Dari Tantangan Logistik Hingga Kebingungan Banyaknya Kertas Suara Dalam Pemilu

  • Whatsapp
Foto udara ini memperlihatkan sebuah perahu motor yang membawa kotak suara tiba di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, di Jakarta, menjelang pemilu 9 Februari 2024

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khoirunnisa Agustyati mengakui pemilu Indonesia termasuk rumit karena menggabungkan lima pemilihan sekaligus dalam satu hari.

Situasi tersebut, kata dia, ikut menyumbang suara tidak sah dalam pemilu tahun 2019 yang mencapai 17,5 juta suara atau 11,12 persen. Sedangkan surat suara yang tidak sah dalam pemilihan DPD berjumlah 29 juta atau 19 persen.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Karena bisa jadi pemilih bingung menerima lima surat suara,” ucapnya.

Khoirunnisa mengatakan pemilih lebih terinformasi terkait pemilihan presiden-wakil presiden (pilpres) dibandingkan pemilihan DPR, DPD dan DPRD.

Hal itu diakui banyak calon pemilih.

Agung Budiyanto, 37, warga Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ternyata tidak tahu dirinya harus mencoblos lima kertas suara

“Pemilu ini memang ribet banget. Saya aja tidak tahu apa yang harus saya coblos selain presiden dan wakil presiden,” ujarnya kepada BenarNews.

Masyarakat luas memang lebih terinformasi dengan pilpres yang kali ini ini diikuti tiga pasangan calon yaitu mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan- Muhaimin Iskandar yang adalah ketua Partai Kebangkitan Bangsa, pasangan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto – wali kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang juga merupakan putra Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan pasangan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo – mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mohammad Mahfud MD.

Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) membawa Kotak Suara Pemilu 2024 di gudang logistik KPU Jakarta Pusat, GOR Cempaka Putih, Jakarta, 9 Februari 2024. [Eko Siswono Toyudho/BenarNews]
Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) membawa Kotak Suara Pemilu 2024 di gudang logistik KPU Jakarta Pusat, GOR Cempaka Putih, Jakarta, 9 Februari 2024. [Eko Siswono Toyudho/BenarNews]

Agung, yang merupakan pekerja swasta ini, mengaku akan asal coblos untuk menentukan calon anggota legislatif karena terbatasnya informasi rekam jejak mereka.

“Terlalu banyak orangnya di spanduk-spanduk dan baliho. Tapi saya gak kenal mereka,” tutur Agung.

Agung juga mengatakan tidak mendapatkan sosialisasi teknis pemilu dari KPU di lingkungan kediamannya.

Nurul Rizki, 29, warga Babelan, Kabupaten Bekasi, mengakui banyaknya kertas suara dalam satu waktu memberatkan bagi para pemilih.

“Para pemilih memiliki potensi kebingungan dan takut memakan banyak waktu saat berada dalam bilik suara,” tutur perempuan yang berpforesi sebagai wiraswasta ini kepada BenarNews.

Hal senada disampaikan juga oleh Taghsya Rizqita Putri Amany, 17, dari Jakarta.

“Aku bingung banget, apalagi baru pertama kali ikut pemilu. Aku baru tahu nanti tidak cuma milih presiden aja,” ujarnya.

Dia mengaku terkejut dengan banyaknya kertas suara yang harus dicoblos sekaligus dalam satu waktu.

“Aku gak nangkep visi misi mereka soalnya di baliho-baliho di jalan cuma pasang muka mereka, gak ada visi misinya,” ucapnya.

Situasi ini membuat Taghsya khawatir akan memilih caleg tak bermutu yang hanya akan membuat masa depan generasi muda menjadi suram.

“Aku takut nanti kalau pemimpin yang salah terpilih, bakal bawa pengaruh buruk ke masa depan aku,” jelasnya.

Nazarudin Latif di Jakarta dan Taufan Bustan di Palu ikut berkontribusi dalam laporan ini. [Red]#BN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *