Dua dekade pasca-tsunami Aceh, masyarakat Aceh diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan tentang mitigasi kebencanaan khususnya gempa bumi dan tsunami.
“Seharusnya kita bisa belajar lebih banyak tentang bagaimana melakukan mitigasi karena sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman. Harapannya pengetahuan dan pemahaman dapat kita bagi serta semakin menguatkan masyarakat Aceh pada umumnya,” ucap Raihan.
Minim Anggaran
Peneliti mitigasi bencana dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Rina Suryani Oktari, menjelaskan Provinsi Aceh telah memiliki Peraturan Gubernur No 43 Tahun 2010 tentang Sistem Peringatan Dini Tsunami. Namun faktanya peraturan itu sulit diimplementasikan berkaca dari peristiwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Aceh pada April 2012.
“Kami punya pengalaman gempa pada April 2012. Itu sebenarnya menguji coba bagaimana sebenarnya tingkat kesiapsiagaan masyarakat Kota Banda Aceh dalam menghadapi tsunami. Kalau waktu April 2012 itu terjadi tsunami, itu bisa dikatakan kita enggak siap,” jelasnya.
Rina menyarankan agar Pemerintah Aceh fokus untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana daripada melakukan upaya tanggap darurat.
“Saya pernah melakukan kajian bagaimana alokasi dana kebencanaan di Badan Penanggulangan Bencana Aceh ternyata mayoritas masih dialokasikan ke tanggap darurat. Sedikit sekali dana atau hampir tidak ada dialokasikan untuk upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Artinya, paradigma dari pengambil kebijakan ini juga harus dipastikan memiliki mindset untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.
Bukan hanya itu, edukasi dan mitigasi kebencanaan juga harus menyasar generasi Z hingga generasi Alpha. Sosialisasi itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan dua generasi yang mayoritas tak mengalami peristiwa tsunami Aceh itu.
“Perlu pendekatan yang sesuai apalagi di era digital. Misalnya, kita coba adopsi Smong (mitigasi kearifan lokal). Jadi namanya Pasmina (Paket Edukasi Mitigasi Bencana) melalui seni seperti dalam tarian kita memasukkan konten-konten edukasi kebencanaan. Edukasi kebencanaan akan lebih sustainable ketika disisipkan ke dalam kegiatan atau program-program yang sudah ada. Kita lihat gen Z lebih suka apa? Nah, itu kita coba sisipkan edukasi mengenai pengurangan risiko bencana,” ucap Rina.
Pemprov Tetap Galakkan Kampanye









