20 Tahun Pasca-Tsunami Aceh: Menakar Kesiapsiagaan Bumi Serambi Makkah dalam Mitigasi Bencana

  • Whatsapp
Kombinasi foto udara masjid Al Maghfirah Habib Chiek Kajhu di daerah yang terkena tsunami di pinggiran Banda Aceh, Indonesia, 31 Desember 2004 (kiri), dan masjid yang sama sedang dibangun kembali pada 22 Desember 2024 (kanan).

Dua dekade pasca-tsunami Aceh, masyarakat Aceh diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan tentang mitigasi kebencanaan khususnya gempa bumi dan tsunami.

“Seharusnya kita bisa belajar lebih banyak tentang bagaimana melakukan mitigasi karena sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman. Harapannya pengetahuan dan pemahaman dapat kita bagi serta semakin menguatkan masyarakat Aceh pada umumnya,” ucap Raihan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Minim Anggaran

Peneliti mitigasi bencana dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Rina Suryani Oktari, menjelaskan Provinsi Aceh telah memiliki Peraturan Gubernur No 43 Tahun 2010 tentang Sistem Peringatan Dini Tsunami. Namun faktanya peraturan itu sulit diimplementasikan berkaca dari peristiwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Aceh pada April 2012.

“Kami punya pengalaman gempa pada April 2012. Itu sebenarnya menguji coba bagaimana sebenarnya tingkat kesiapsiagaan masyarakat Kota Banda Aceh dalam menghadapi tsunami. Kalau waktu April 2012 itu terjadi tsunami, itu bisa dikatakan kita enggak siap,” jelasnya.

Rina menyarankan agar Pemerintah Aceh fokus untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana daripada melakukan upaya tanggap darurat.

“Saya pernah melakukan kajian bagaimana alokasi dana kebencanaan di Badan Penanggulangan Bencana Aceh ternyata mayoritas masih dialokasikan ke tanggap darurat. Sedikit sekali dana atau hampir tidak ada dialokasikan untuk upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Artinya, paradigma dari pengambil kebijakan ini juga harus dipastikan memiliki mindset untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.

Kombinasi foto kerusakan di depan Masjid Raya Baiturrahman yang disebabkan oleh tsunami, 27 Desember 2004 (kiri), dan taman di depan masjid yang sama 20 tahun kemudian, 22 Desember 2024 (kanan), di Banda Aceh.
Kombinasi foto kerusakan di depan Masjid Raya Baiturrahman yang disebabkan oleh tsunami, 27 Desember 2004 (kiri), dan taman di depan masjid yang sama 20 tahun kemudian, 22 Desember 2024 (kanan), di Banda Aceh.

Bukan hanya itu, edukasi dan mitigasi kebencanaan juga harus menyasar generasi Z hingga generasi Alpha. Sosialisasi itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan dua generasi yang mayoritas tak mengalami peristiwa tsunami Aceh itu.

“Perlu pendekatan yang sesuai apalagi di era digital. Misalnya, kita coba adopsi Smong (mitigasi kearifan lokal). Jadi namanya Pasmina (Paket Edukasi Mitigasi Bencana) melalui seni seperti dalam tarian kita memasukkan konten-konten edukasi kebencanaan. Edukasi kebencanaan akan lebih sustainable ketika disisipkan ke dalam kegiatan atau program-program yang sudah ada. Kita lihat gen Z lebih suka apa? Nah, itu kita coba sisipkan edukasi mengenai pengurangan risiko bencana,” ucap Rina.

Pemprov Tetap Galakkan Kampanye

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *