Berdamai dengan Talasemia
Siti Utami Sri Wulandari, 40 tahun, penyintas Talasemia asal Kabupaten Bekasi Jawa Barat mengatakan peranan orang tua sangat penting untuk memungkinkan dirinya dapat berdamai dengan Talasemia. Sejak pertama kali terdiagnosa pada usia 4 bulan, ia menjalani perawatan medis seperti transfusi darah dan kelasi besi secara rutin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
“Akhirnya pelan-pelan berobat, rutin, karena dulu saya tinggal di Tasikmalaya sudah mulai rutinitas untuk transfusi tiap bulan dari Tasik ke Jakarta, naik bis. Setiap bulan secara teratur, sebulan sekali, ibu saya membawa saya ke RSCM. Tentu itu tidak mudah, terlebih lagi ketika diputuskan bahwa saya mulai harus menerima kelasi besi,” cerita Siti Utami yang kini bekerja sebagai dokter di Poliklinik Kesehatan Karyawan Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi.
Diakuinya dukungan orang tua juga meyakinkan dirinya untuk tidak minder dan tetap percaya diri. Kedisiplinan menjalani terapi transfusi darah dan mengonsumsi obat membuatnya menjalani aktivitas hampir sama seperti orang sehat pada umumnya.
Dengan tema “Memberdayakan Kehidupan, Merangkul Kemajuan : Pengobatan Talasemia yang Adil dan Dapat Diakses untuk Semua,” peringatan Hari Talasemia Sedunia mengajak semua pihak berkontribusi memberdayakan individu yang terkena dampak Talasemia melalui kemajuan dalam pilihan pengobatan.
Warga juga perlu diajak menyadari bahaya penyakit ini sehingga dapat mencegah berkembangnya penyakit dan membantu memperbaiki kehidupan mereka yang terkena dampak kondisi genetik ini. [Red]#VOA









