2.500 Bayi Indonesia Terlahir dengan Talasemia Beta Mayor, Kemenkes Serukan Deteksi Dini

  • Whatsapp
Thalassemia adalah penyakit genetik pada darah di mana pasien tidak dapat memproduksi cukup hemoglobin, zat dalam sel darah merah, yang mengangkut oksigen dari paru-paru. Hari Thalassemia Internasional diperingati setiap 8 Mei.

Berdamai dengan Talasemia

Siti Utami Sri Wulandari, 40 tahun, penyintas Talasemia asal Kabupaten Bekasi Jawa Barat mengatakan peranan orang tua sangat penting untuk memungkinkan dirinya dapat berdamai dengan Talasemia. Sejak pertama kali terdiagnosa pada usia 4 bulan, ia menjalani perawatan medis seperti transfusi darah dan kelasi besi secara rutin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Prinka Shahani, 8, yang menderita Thalassaemia, dalam kampanye kesadaran talasemia di kota Siliguri, India timur laut, 12 Januari 2009. (Foto: Reuters/Rupak De Chowdhuri)
Prinka Shahani, 8, yang menderita Thalassaemia, dalam kampanye kesadaran talasemia di kota Siliguri, India timur laut, 12 Januari 2009. (Foto: Reuters/Rupak De Chowdhuri)

“Akhirnya pelan-pelan berobat, rutin, karena dulu saya tinggal di Tasikmalaya sudah mulai rutinitas untuk transfusi tiap bulan dari Tasik ke Jakarta, naik bis. Setiap bulan secara teratur, sebulan sekali, ibu saya membawa saya ke RSCM. Tentu itu tidak mudah, terlebih lagi ketika diputuskan bahwa saya mulai harus menerima kelasi besi,” cerita Siti Utami yang kini bekerja sebagai dokter di Poliklinik Kesehatan Karyawan Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi.

Diakuinya dukungan orang tua juga meyakinkan dirinya untuk tidak minder dan tetap percaya diri. Kedisiplinan menjalani terapi transfusi darah dan mengonsumsi obat membuatnya menjalani aktivitas hampir sama seperti orang sehat pada umumnya.

“Dengan pengobatan yang disiplin, kelasi besi yang konsisten dan disiplin maka Insya Allah secara fisik kita tidak akan berbeda dengan orang-orang sehat pada umumnya, sehingga itu tidak membuat kita menjadi minder,” pesan Siti Utami.

Dengan tema “Memberdayakan Kehidupan, Merangkul Kemajuan : Pengobatan Talasemia yang Adil dan Dapat Diakses untuk Semua,” peringatan Hari Talasemia Sedunia mengajak semua pihak berkontribusi memberdayakan individu yang terkena dampak Talasemia melalui kemajuan dalam pilihan pengobatan.

Warga juga perlu diajak menyadari bahaya penyakit ini sehingga dapat mencegah berkembangnya penyakit dan membantu memperbaiki kehidupan mereka yang terkena dampak kondisi genetik ini. [Red]#VOA