Upaya Pencegahan Talasemia
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Eva Susanti mengatakan hingga kini penyakit Talasemia belum bisa disembuhkan. Namun, dapat dicegah dengan menghindari pernikahan antara sesama pembawa sifat Talasemia yang dapat diketahui melalui deteksi dini atau skrining Talasemia yang cukup dilakukan sekali seumur hidup. Skrining berupa pemeriksaan kadar Hb dan ukuran sel darah merah di sekolah maupun Pos Binaan Terpadu (Posbindu) penyakit tidak menular.
“Jika kita bisa mengidentifikasi dan mengedukasi para pembawa sifat agar tidak menikah dengan sesama pembawa sifat sehingga kita dapat mencegah kelahiran bayi Talasemia Mayor pada setidaknya kemungkinan pernikahan 50 persen pembawa sifat ini,” kata Eva Susanti.
Pada tahun 2023, Kementerian Kesehatan juga telah melakukan uji coba pelaksanaan skrining pembawa sifat pada anak sekolah di 21 sekolah di DKI Jakarta. Saat itu diketahui bahwa sekitar 5,6 persen anak yang di skrining merupakan pembawa sifat Talasemia.
Indonesia terletak di sepanjang sabuk Talasemia di mana 3-10 persen populasi Indonesia merupakan pembawa sifat talasemia beta atau beta talasemia; sementara 2,6 – 11% merupakan pembawa sifat talasemia alpha atau alpha talasemia.
“…dan diestimasikan sekitar 2.500 bayi terlahir dengan talasemia beta mayor setiap tahunnya di Indonesia,” ungkap Eva Susanti.









