
18 Tahun Bencana Lumpur Lapindo: Bagaimana Kondisi Lingkungan dan Korban?

Tidak ada lagi kehidupan di area tanggul. Hanya aktivitas pekerja tanggul yang sesekali terlihat mengalirkan air dari kolam penampungan atau memperkokoh tanggul yang kini setinggi 12 meter.
Korban lumpur dari Desa Siring, Harwati mengatakan, kesehatan warga masih menjadi pesoalan serius dan butuh penanganan pemerintah. Tidak banyak warga yang memahami bahwa berada di dekat tanggul dalam waktu yang lama bisa berbahaya bagi kesehatan.
Harwati mengatakan, hingga kini tidak ada pendataan warga untuk mengetahui kondisi kesehatan pasca pindah tempat tinggal. Hal ini, kata Harwati, seakan menunjukkan pemerintah melepas tanggung jawabnya.
“Soal kesehatan pun itu belum tersentuh semua, apalagi penyebaran warga Lapindo itu pemerintah tidak tahu. Mungkin yang dibayar oleh negara, di luar tanggul itu mungkin mereka tahu, karena mereka pindahnya bergerombol atau relokasi. Sedangkan yang empat desa, terutama yang Siring, Jatirejo, Kedungbendo (dan Renokenongo), itu kan mereka tidak terdeteksi kemana penyebarannya. Sedangkan mereka waktu pindah itu kan sudah terkontaminasi dengan pencemaran-pencemaran yang sudah mereka bawa dalam tubuh mereka,” paparnya.
Harwati kini tinggal di Desa Candipari, Kecamatan Porong, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari barat tanggul. Hingga kini Harwati masih sering mencium bau tidak sedap di udara. Bahkan, air sumur yang ada di wilayah desanya sudah tidak dapat lagi digunakan untuk mandi dan mencuci.
Hasil pengujian kualitas air yang dilakukan sejumlah warga dan aktivis lingkungan, menunjukkan air tanah di desa-desa sektar tanggul sudah tercemar logam berat. Menurut Harwati, pemerintah seharusnya memberikan perhatian dengan memasok kebutuhan air bersih untuk warga di sekitar tanggul lumpur, meski tempat tinggal mereka tidak masuk peta area terdampak lumpur Lapindo.
“Yang saya miris itu di Glagaharum, sudah berdampingan dengan tanggul Lapindo, lalu di dekat stasiun itu ada beberapa keluarga, sama di Gempolsari, seharusnya mereka itu layak mendapatkan bantuan air bersih, tapi tidak mendapatkan sampai sekarang. Jadi, hak air bersih khususnya sekitar warga korban Lapindo itu sepertinya dihapus, atau memang sengaja pura-pura tidak tahu,” kata Harwanti.
Warga Besuki, Eko Widodo, yang juga anggota Posko KKLuLa, mengatakan pemantauan telah rutin dilakukan sejak 2016 hingga Mei 2024 ini. Hasilnya menunjukkan adanya pencemaran pada udara dan air, yang dapat berpengaruh pada produk pertanian serta kesehatan warga.








