18 Tahun Bencana Lumpur Lapindo: Bagaimana Kondisi Lingkungan dan Korban?

  • Whatsapp
Lumpur dan uap yang berasal dari sumur minyak eksplorasi yang dioperasikan Lapindo Brantas di Sidoarjo di Jawa Timur 27 September 2006. Kegiatan eksplorasi tersebut menyebabkan sejumlah desa terkubur oleh lumpur. (Foto: Reuters/Sigit Pamungkas)

Bencana lumpur Lapindo terjadi 18 tahun lalu. Namun, puluhan ribu warga dari 19 desa di 3 kecamatan di Kabupaten Sudoarjo terusir dari tempat tinggal mereka belum juga mengalami perubahan nasib.

Bau lumpur masih menyengat saat mendekati tanggul lumpur Lapindo, dari titik 21 wilayah Desa Siring, Kecamatan Porong. Bau itu semakin tajam saat berada di atas tanggul, mendekati pusat semburan yang masih memuntahkan material lumpur panas beserta asap putih tebal. Cuaca yang terik dan bau udara yang menyengat bisa membuat kepala pusing dan mual siapa saja yang datang ke sana.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mahfud, warga asal Desa Siring yang kini pindah di wilayah Kecamatan Tanggulangin, di sebelah utara tanggul, merasakan itu.

“Kalau bau ya bau, cuma kadang-kadang malam, kadang sore, tapi tidak seberapa dekat seperti di wilayah Porong, (baunya) seperti ammonia. Ya menyengat, kadang tidak seberapa bau, tapi kadang-kadang menyengat sekali kalau malam,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *