Tahun ini, peringatan HJL mengusung tema “Harmoni Menuju Lamongan Berdaya Saing”, yang menekankan pentingnya perjuangan dan kolaborasi dalam mencapai kemajuan daerah.
Sejarah mencatat bahwa Rangga Hadi, yang menjabat sebagai Bupati Lamongan pada periode 1569-1607, dikenal sebagai sosok yang mengayomi masyarakat. Oleh karena itu, ia mendapat julukan Mbah Lamong, yang berasal dari kata “ngemong” dalam bahasa Jawa, yang berarti mengayomi. Ia juga dikenal sebagai santri Sunan Giri yang menyebarkan ajaran agama, serta mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat di kawasan Kenduruan.
Selain itu, Mbah Punuk dan Mbah Sabilan juga merupakan tokoh berpengaruh dalam sejarah Lamongan. Mbah Sabilan, yang hingga kini nama aslinya belum diketahui, terkait erat dengan tradisi lamaran oleh calon pengantin perempuan di Lamongan. Tradisi ini merujuk pada kisah Dewi Andanwangi dan Andansari, putri Adipati Wirasaba, yang melamar dua putra Raden Panji Puspa Kusuma.








