Trump Tawarkan “Kartu Emas” $5 Juta bagi WN Asing untuk Buka Lapangan Kerja di Amerika

  • Whatsapp
Presiden AS Donald Trump menawarkan “kartu emas” seharga $5 juta (sekitar Rp 81 miliar) kepada warga negara asing yang ingin pindah ke AS (foto: ilustrasi)

Rencana Trump tersebut muncul ketika Uni Eropa (UE) menekan negara-negara anggota untuk menarik atau memperketat program residensi-berdasarkan-investasi, yang dapat memicu gelembung harga rumah dan memberikan manfaat marjinal bagi PDB, serta meningkatkan risiko penghindaran pajak dan korupsi.

Sebuah studi tahun 2021 tentang program visa emas UE oleh para peneliti London School of Economics and Political Science dan Harvard University menemukan bahwa dana yang dihasilkan oleh skema ini hanya mencakup sebagian kecil investasi asing dengan dampak ekonomi yang “tidak berarti.”

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Visa EB-5 terutama banyak dimanfaatkan oleh penduduk Hong Kong dan China untuk memulai bisnis di AS dan menginginkan anak-anak mereka belajar di AS, kata John Hu, pendiri John Hu Migration Consulting yang berpusat di Hong Kong.

“Menaikkan ambang batas investasi menjadi $5 juta akan menjadi penghalang bagi banyak warga negara China yang saat ini mengakses skema tersebut,” imbuhnya.

“Jumlah total pemohon, jika visa emas akan menggantikan EB5, akan turun secara signifikan,” kata Hu kepada kantor berita Reuters. Ia menambahkan bahwa kewajiban pajak global selalu menjadi perhatian bagi orang kaya.

Kongres menciptakan Program EB-5 pada tahun 1990 untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS melalui penciptaan lapangan kerja dan investasi modal oleh investor asing. Visa EB-5 Amerika Serikat menyediakan metode bagi investor imigran yang memenuhi syarat untuk menjadi penduduk tetap yang sah—secara informal dikenal sebagai pemegang “kartu hijau”—dengan menginvestasikan modal yang besar untuk membiayai bisnis di AS dengan syarat bisnis terkait menciptakan sedikitnya 10 pekerjaan purna waktu baru bagi warga Amerika dan imigran yang memiliki izin kerja. [Red]#VOA