Burhanuddin menjelaskan faktor perhatian pada rakyat menjadi alasan teratas (42,6 persen) responden memilih calon. Alasan lainnya adalah belum tahu nama calon lain (16,1 persen) dan berpengalaman di pemerintah (10,4 persen).
“Jadi dari 42,6 persen baseline warga Jabar yang memilih karena faktor perhatian sama rakyat itu paling didominasi oleh pemilih Dedi Mulyadi. Jadi orang yang memilih karena faktor perhatian sama rakyat itu umumnya memilih Dedi Mulyadi. Jadi kekuatan Dedi Mulyadi disini, mungkin karena orangnya rajin muter (berkeliling-red) ke seluruh wilayah di Jawa Barat,” papar Burhanuddin.
Saat ini berdasarkan survei itu, popularitas Dedi berada di posisi teratas (93,8 persen), sementara nama-nama lain kurang dari 25 persen. Tingkat kedisukaan public terhadap Dedi juga sangat tinggi sekitar 92,2 persen.
Peneliti utama lain Indikator Politik Indonesia lainnya, Hendro Prasetyo mengungkapkan pasangan Dedi-Erwan mendapat dukungan mayoritas di tiap segmen sosio-demografi warga Jabar. Pasangan itu mendapatkan dukungan 81,2 persen pemilih di pedesaan dan 75,9 persen pemilih di perkotaan. Sementara berdasarkan pendidikan, dukungan terbesar berasal dari pemilih berpendidikan rendah
“Pendidikan yang lebih rendah itu relatif lebih dominan ya terutama SLTP 82,1 persen, kemudian SD 79,9 persen tetapi untuk kuliah ini hanya 64,8 persen, sedangkan SLTA 77,7 persen,” kata Hendro.
Dukungan Partai Politik
Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto menilai melejitnya nama Dedi dan Erwan dalam survei Indikator Politik Indonesia tidak terlepas dari dukungan partai politik yang mencalonkan mereka dalam Pilkada Jawa Barat.









