Di sisi lain, kebijakan blokade laut oleh Presiden Donald Trump terhadap pelabuhan Iran memperburuk ketidakpastian. Perusahaan pelayaran kini menghadapi risiko tinggi akibat tidak jelasnya kondisi keamanan dan kriteria penargetan kapal di kawasan tersebut.
Dalam sepekan terakhir, militer AS dan Iran masing‑masing mengumumkan penyitaan dua kapal komersial. Departemen Pertahanan AS menyebut telah menangkap kapal Majestic X yang diduga mengangkut minyak bersanksi serta mencegat kapal Tifani. Sementara Garda Revolusi Iran menahan kapal berbendera Panama MSC Francesca dan kapal milik Yunani Epaminondas dengan alasan pelanggaran izin dan manipulasi sistem navigasi.
Pemerintah Filipina mengonfirmasi terdapat 15 pelaut asal negaranya di dua kapal yang disita Iran, sementara pejabat Montenegro menyebut empat awak kapalnya berada di MSC Francesca. Meski tidak ada laporan kekerasan, Stawpert menegaskan bahwa penahanan itu sendiri sudah tidak dapat dibenarkan. Ia juga menyoroti sekitar 20.000 pelaut yang kini terjebak di kawasan Teluk akibat penutupan efektif Selat Hormuz, yang menimbulkan tekanan psikologis berkepanjangan.








