Satu Lagi Film Laga Indonesia Tembus Pasar Internasional

  • Whatsapp
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/12) meyakini Indonesia tidak akan impor beras pada tahun 2025. (Biro Setpres)

Rama lebih jauh mengatakan, ada pergeseran selera di kalangan penonton, termasuk di Amerika, terhadap film laga. Para penonton zaman sekarang, terutama generasi Z, menyukai film laga yang tidak sungkan menggambarkan kebrutalan. “Selera masyarakat terhadap film selalu berkembang, selalu berubah dengan berjalannya waktu,” katanya.

Joe tidak menampik bahwa film-film laga terakhir karya Indonesia yang sukses di panggung internasional memang banyak menghadirkan adegan brutal yang sangat disukai penonton. Namun, katanya, bukan berarti Indonesia harus terus memproduksi yang seperti itu.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Tidak harus bahwa film laga Indonesia rating dewasa. Ini seharusnya menjadi PR bagi koreagrafer dan sutradara film laga Indonesia untuk membuat film yang ramah bagi mereka yang berusia di bawah 17 tahun,” kata Joe.

Bagaimana dengan unsur internasional? Di pembuka film The Shadow Strays, Timo sengaja menampilkan adegan brutal yang seolah digambarkan berlangsung di Jepang. Apakah ini juga menjadi faktor yang sengaja ditawarkan Timo untuk mengundang atensi penonton di luar Indonesia? Timo, tidak membantahnya.

Ia mengatakan, ia memang sering menampilkan nuansa Asia, yang tidak hanya Indonesia, dalam film-filmnya sebagai upaya merangkul lebih banyak penonton. Menurut Timo, “sentuhan” seperti itu tak lepas dari latar belakang hidupnya, yang banyak terekspos dengan budaya lain. Timo dilahirkan di Jerman, tapi kemudian dibesarkan di Indonesia dan sempat mengenyam pendidikan di Australia.

Banyak pengamat film mengatakan, The Shadow Strays menakjubkan secara sinematik. film ini menampilkan berbagai jenis aksi yang memicu adrenalin, mulai dari mobil terbakar, tembak-menembak, perkelahian massal, serta pertarungan tangan kosong dan senjata. Sampai-sampai banyak yang menduga film ini menelan biaya luar biasa besar. Timo membantahnya.

“Banyak orang berpikir, ‘wah gila, ini film mungkin dibuat dengan anggaran 30 juta dolar. Itu tidak benar. Kenyataannya hanya hampir sepersepuluhnya,” jelasnya, sambil tertawa.

Menurut Timo, di Indonesia, para pembuat film bisa kreatif karena tidak terikat banyak aturan yang kerap membebani secara finansial. Apakah ini berarti kalau dibesut di Hollywood film ini akan menelan biaya yang jauh lebih besar?

“Yah akan jauh lebih mahal. Biayanya sangat tinggi, karena lokasi mahal, asuransi tinggi, pajak juga ada. Di Indonesia juga ada pajak, tapi sistemnya di Indonesia lebih memberi Anda kebebasan untuk berkreasi penuh,” katanya.

Timo tahu persis itu karena ia juga pernah membesut film produksi Hollywood. Ia menjadi sutradara film Nobody 2 yang akan dirilis tahun 2025 dan di antaranya dibintangi Sharon Stone. Timo saat ini juga sedang disibukkan oleh persiapan menjadi sutradara film Hollywood lainnya The Last Train to New York yang merupakan remake film blockbuster Train to Busan.

Rama mendukung pernyataan Timo bahwa keberhasilan sebuah film laga tidak bergantung pada anggarannya, tapi pada kreativitas para pembuatnya.

“Sutradara yang pintar bisa membuat filmnya kelihatan mahal, meskipun anggarannya tidak besar,” tuturnya.

Rama Tampubolon dan Iko Uwais – berharap Indonesia terus memproduksi film-film laga berkualitas (dokumentasi Rama Tampubolon)
Rama Tampubolon dan Iko Uwais – berharap Indonesia terus memproduksi film-film laga berkualitas (dokumentasi Rama Tampubolon)

Keberhasilan Timo membuat film laga The Shadow Strays dengan biaya yang terbilang rendah ini membuatnya berambisi membuat sekuelnya. Apakah ini sebuah kepastian bahwa kelak ada The Shadow Strays-2?

“Saya biasanya cukup yakin, ketika membuat film, saya biasanya memiliki keyakinan bahwa film itu punya potensi untuk dilanjutkan. Itulah alasannya di penghujung film, saya memberikan kode dengan ide kalau penonton ingin kelanjutannya, saya punya cerita yang bisa disampaikan,” katanya.

Menurut Timo, pada tahun 2025 dia mempunyai 1 hingga 2 proyek film laga di Hollywood, sementara di Indonesia ia sedang menyusun rencana untuk membuat kelanjutan film The Big 4.

Lantas apa saran Timo bagi para pembuat film yang memproduksi film laga? “Membuat sesuatu yang bersifat teknis itu sulit tapi mungkin dilakukan. Tapi membuat penonton peduli pada tokoh-tokoh yang ada pada film jauh lebih sulit. Artinya, seberapa hebat pun laga yang ditampilkan dalam film, kalau Anda gagal membuat penonton peduli pada tokoh-tokohnya, film tersebut gagal merebut hati penonton. Jadi menurut saya yang paling penting, mulailah dengan naskah yang solid,” katanya. [Red]#VOA