Timo mengatakan, film-film laga Indonesia menjadi sorotan internasional setelah dirilisnya The Raid: Redemption pada 2011 yang disutradarai Gareth Evans yang kemudian disusul oleh sekuelnya, The Raid 2, pada 2014. Kedua film tersebut sangat diminati di berbagai belahan dunia meski ketika itu hanya bisa ditonton di layar lebar.
“Saya kira contoh yang paling berhasil, yang bisa masuk ke pasar Amerika adalah The Raid. Film itu bisa eksis di pasar Amerika pada masa belum ada layanan streaming Netflix,” jelas Timo.
Pernyataan Timo dibenarkan Joe Taslim, aktor laga — yang bersama Iko Uwais dan Yahya Ruhian — membintangi film The Raid: Redemption. Berkat The Raid, kata Joe, “Sampai sekarang, 2024, Indonesia masih sangat dihormati. Kita boleh dibilang salah satu mecca-nya film laga dunia, yang menginspirasi sutradara-sutradara besar dunia, termasuk yang di Hollywood. Setelah The Raid, orang-orang membuat film laga secara berbeda. The Raid menjadi inspirasi mereka.’
Rama Tampubolon, movie blogger yang berbasis di Los Angeles, California, juga setuju. Anggota sejumlah asosiasi kritikus film di Amerika, seperti Hollywood Creative Alliance dan Los Angeles Film Critics Society, ini mengatakan, Indonesia memang dikenal berpotensi memproduksi film-film laga berkualitas, dan layanan streaming telah mendongkrak pangsa pasarnya.
“Film-film laga memang diharapkan dari Indonesia karena stereotype-nya Asian movies are action movies. Itulah alasan mengapa The Shadow Strays, The Night Comes for Us, The Raid begitu populer di Netflix,” ungkap Rama.
Dipa Andika Nurprasetyo, seorang produser film Indonesia, juga optimistis dengan kemungkinan film-film laga Indonesia menembus pasar internasional. Apalagi, bila film itu dibuat secara apik dan memenuhi standar internasional
Dipa mengatakan, “Genre film yang mudah diterima secara internasional adalah horor dan laga. Ini terbukti dengan keberhasilan The Shadow Strays yang masuk Top 10 di 85 negara, tidak hanya Eropa dan Amerika, tapi di semua benua.”
Kebrutalan Kunci Keberhasilan
Apa sebetulnya keunggulan film The Shadow Strays dibandingkan dengan film-film laga Hollywood? Timo mengakui, selain koreografi perkelahian yang apik, kebrutalan menjadi faktor yang menentukan.
“Kita tidak pernah bisa bersaing dengan Hollywood dalam hal atraksi memukau, seperti melompat dari helikopter, kebut-kebutan mobil mewah atau ledakan mobilBMW. Yang bisa kita lakukan untuk menyainginya adalah dengan kebrutalan. Indonesian way adalah brutal way,” kata Timo.
Apalagi, kata Timo, seni bela diri yang paling umum di Indonesia adalah Pencak Silat. “Silat itu menarik, seni bela diri yang brutal tapi indah. Ketika adegan perkelahiannya dibesut secara up close, ada nuansa keras, kuat dan emosional,” paparnya.
Joe, yang menguasai sejumlah seni bela diri, termasuk wushu, judo dan taekwondo, setuju. “Manuver-manuver silat itu untuk koreografi film laga itu sangat-sangat menarik. Dalam film, koreografi yang dibentuk dengan dasar-dasar silat memiliki keunikan tersendiri dibanding koreografi yang didasarkan pada seni bela diri lain,” kata aktor yang sudah sering muncul dalam film-film produksi luar negeri, seperti Fast Furios 6, Warrior, Mortal Kombat, dan The Furious. Yang terakhir adalah film laga terbaru Joe yang diproduksi di Hong Kong dan akan dirilis tahun depan.
Brutalitas erat kaitannya dengan semburan darah di mana-mana. Dan ini bukan tidak mungkin akan membuat sejumlah orang enggan untuk menontonnya. Namun, menurut Rama, itulah tuntutan pasar untuk film laga saat ini. Ketika ditanya, apakah mungkin membuat film laga yang tidak banyak menampilkan darah, Rama menjawab, “Bisa dibuat seperti itu. Di Amerika, itu ratingnya PG-13. Tapi itu tidak populer saat ini. Sekarang kalau mau nonton film laga, ekspektasi mereka adalah mau lihat segala bentuk kekerasannya. Kalau mereka tidak lihat, mereka akan kecewa. Film laga saat ini rata-rata rated R.”
Film dengan rating R (restricted) berisi materi dewasa dan dibatasi untuk orang berusia 17 tahun ke atas, atau harus didampingi oleh wali dewasa.









