Pemerintah mengatakan satu juta orang – sekitar seperlima populasinya – telah lari meninggalkan rumah mereka. Sebagian dari mereka yang meninggalkan Lebanon selatan, tidur di lapangan parkir di kota Sidon.
Ghada Fawaz, di desa pegunungan Aramoun, membuka apartemen untuk para pengungsi. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa ia melihat ketakutan para pengungsi.
Katanya, “Setiap hari sewaktu saya lewat dan mengetuk pintu mereka untuk mengetahui keadaan mereka dan melihat apa yang mereka perlukan, saya merasakan ketakutan dan kecemasan di mata mereka. Mereka selalu ketakutan akan terluka di tempat mereka mengungsi, jangan sampai terjadi. Ini karena begitu banyak yang telah mereka alami dan mereka saksikan.”
Keputusasaan bagi sebagian orang semakin parah, karena hingga kini, Lebanon adalah tempat mereka mengungsi.
Raed Ali termasuk di antara ribuan pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara di negara tetangga, Suriah. Ia mengatakan ia meninggalkan Suriah dan menuju kawasan Dahiyeh di pinggiran kota Beirut, dan kemudian melarikan diri ke Beirut.
Katanya kepada Reuters, “Saya punya keluarga, lima anak perempuan, dan juga keluarga abang saya. Kami tidak tahu ke mana harus pergi. Itulah masalahnya, kami tidak tahu bagaimana nasib kami sendiri.”








