Bagi warga Kalitengah, momen Idul Fitri adalah waktu yang sakral untuk saling memaafkan. Keberadaan jembatan bambu sepanjang gang tersebut menjadi sangat krusial agar warga tidak perlu berendam di air banjir yang keruh saat hendak beranjak ke rumah tetangga atau saudara.
Pengerjaan jembatan dilakukan secara komunal. Para pria bertugas merakit dan mengikat bambu, sementara warga lainnya memberikan dukungan moral dan logistik. Mereka berharap, meski dalam keterbatasan bencana banjir, kegembiraan hari kemenangan tetap bisa dirasakan dengan hangat.
Melalui jembatan darurat ini, warga Bojoasri membuktikan bahwa genangan air setinggi lutut sekalipun tidak mampu memutus tali silaturahmi dan semangat kebersamaan mereka. [NH]








