SIDOARJO | DN – Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek Minyakita masih menjadi keluhan utama masyarakat di Kabupaten Sidoarjo. Sejak usai libur Idulfitri, produk yang menjadi andalan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah tersebut sulit ditemukan di sejumlah pasar tradisional maupun toko kelontong.
Pantauan di beberapa pusat perdagangan menunjukkan stok Minyakita tidak lagi tersedia di lapak-lapak pedagang. Kondisi ini membuat konsumen terpaksa membeli minyak goreng kemasan nonsubsidi yang dibanderol dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga eceran Minyakita.
Sejumlah pedagang sembako mengaku pasokan dari distributor berhenti sejak beberapa waktu setelah Lebaran. Akibatnya, mereka tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan yang hampir setiap hari menanyakan keberadaan minyak goreng subsidi tersebut.
Salah seorang pedagang di pasar tradisional Sidoarjo mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian kapan distribusi Minyakita kembali normal.
“Sudah lama kosong. Banyak pembeli datang mencari Minyakita, tetapi kami tidak punya stok. Akhirnya mereka membeli minyak goreng merek lain meskipun harganya lebih mahal,” ujarnya.
Kelangkaan ini tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar. Beberapa pedagang mengaku mengalami penurunan transaksi karena sebagian pelanggan memilih mengurangi pembelian kebutuhan lain setelah harus mengalokasikan dana lebih besar untuk membeli minyak goreng.
Di sisi lain, pelaku usaha mikro dan pedagang kuliner turut merasakan tekanan akibat melonjaknya biaya produksi. Mereka harus menggunakan minyak goreng nonsubsidi untuk mempertahankan usaha, sementara kemampuan menaikkan harga jual produk sangat terbatas.
“Keuntungan menjadi semakin tipis karena harga bahan baku naik, sementara pembeli juga sedang menahan pengeluaran,” ungkap seorang pelaku usaha makanan ringan di wilayah Sidoarjo.
Bagi banyak keluarga, terutama rumah tangga dengan penghasilan terbatas, absennya Minyakita membuat pengeluaran kebutuhan dapur meningkat. Selisih harga antara minyak subsidi dan nonsubsidi dinilai cukup signifikan sehingga menambah beban ekonomi masyarakat.
Hingga kini, warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Selain memastikan kelancaran distribusi, masyarakat juga meminta adanya pengawasan terhadap rantai pasok guna mencegah kemungkinan penyimpangan yang dapat memicu kelangkaan di tingkat pasar.
Masyarakat berharap pasokan Minyakita segera kembali tersedia agar kebutuhan pokok sehari-hari dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau, terutama bagi kalangan pelaku UMKM dan keluarga berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh kondisi tersebut. [NH]








