TUBAN | DN – Komitmen penuntasan anak putus sekolah terus digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya prinsip no one left behind saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Tuban di Jalan Letda Sucipto, Rabu (29/7).
Kedatangan rombongan Gubernur yang didampingi Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, perwakilan Kementerian Sosial, serta jajaran Pemprov Jatim disambut hangat lewat riuh tepuk Pramuka dan tawa para siswa. Di lokasi, Khofifah berinteraksi langsung dengan para murid dan wali murid untuk menyerap aspirasi sekaligus memantik semangat belajar anak-anak.
Suasana cair terpancar saat Khofifah menanyakan cita-cita para siswa, yang mayoritas mendambakan profesi sebagai anggota TNI hingga kepolisian. Mengimbangi antusiasme tersebut, Khofifah mengajak seluruh siswa berdiri memperagakan tepuk Pramuka sebelum memberikan pesan khusus kepada para orang tua.
“Doakan putra-putri panjenengan sehat di sini ya. Sekolahnya bisa berjalan dengan baik, dan cita-citanya semuanya mudah-mudahan tercapai, amin,” tutur Khofifah di hadapan para wali murid.
Dalam peninjauan fasilitas, orang nomor satu di Jawa Timur tersebut mengapresiasi ketersediaan sarana prasarana sekolah yang dinilainya sangat representatif. Menurutnya, keberadaan ruang belajar yang nyaman, kantin bersih, hingga lapangan olahraga yang memadai merupakan modal penting untuk menunjang tumbuh kembang peserta didik.
Meski demikian, Khofifah menekankan bahwa fisik bangunan yang bagus harus diimbangi dengan ekosistem pendidikan yang kuat dan berintegritas.
“Carilah sekolah seindah ini, sekolah sebagus ini. Carilah kantin yang senyaman di sini dan lapangan olahraga yang luar biasa. Tentu ini menjadi medium pembelajaran yang luar biasa pula,” ungkapnya.
Ia menambahkan, terwujudnya Sekolah Rakyat merupakan buah dari kolaborasi solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Khofifah juga membeberkan perjuangan panjang di balik hadirnya para siswa di sekolah tersebut. Keterlibatan aktif para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi kunci utama dalam merangkul anak-anak rentan putus sekolah. Bahkan, tidak sedikit pendamping yang harus mendatangi rumah warga hingga sepuluh kali demi meyakinkan orang tua agar mengizinkan anaknya kembali menimba ilmu.
“Banyak anak yang bahkan tidak tahu lagi jenjang kelas terakhirnya karena sudah terlalu lama berhenti sekolah. Melalui Sekolah Rakyat ini, kita pastikan hak mereka atas pendidikan kembali terpenuhi. Khususnya untuk tingkat SD di sini, no one left behind. Tidak boleh ada satu orang pun yang tertinggal,” pangkas Khofifah. [J2]








