Pemkab Lamongan menggandeng akademisi dari Universitas Lamongan (Unisla) sebagai pendamping program untuk memastikan efektivitasnya. Setiap dua minggu, perkembangan anak asuh dipantau melalui pengukuran berat dan tinggi badan. Hasilnya menunjukkan bahwa 75 persen balita dalam program berhasil lolos dari garis stunting, sementara 25 persen lainnya masih terkendala oleh penyakit bawaan.
Apresiasi terhadap keberhasilan program ini datang dari Tim Penilaian Kinerja Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Jawa Timur, termasuk perwakilan dari DP3A Jawa Timur, Universitas Airlangga, Ormas Muhammadiyah, serta TP PKK Jawa Timur. “Kami sangat tertarik dengan pendekatan program 1-10-100 ini,” ungkap salah satu panelis.








