Preschool Berbahasa Mandarin Menjamur di Indonesia

  • Whatsapp

Baik Fabian maupun Henoch mengatakan, membiarkan anak-anak terekspos pada bahasa Mandarin sejak usia dini akan memudahkan mereka menyerap bahasa itu dan bahkan menumbuhkan minat pada bahasa itu.

Siswa Rising Star – Tampil dalam acara lomba ketangkasan berbahasa mandarin (Dokumentasi Rising Star)
Siswa Rising Star – Tampil dalam acara lomba ketangkasan berbahasa mandarin (Dokumentasi Rising Star)

“Lebih mudah karena belum bisa bahasa apa-apa. Belum bisa bahasa Mandarin, belum bisa bahasa Inggris dan bahkan belum bisa bahasa Indonesia. Mereka sama-sama memulainya dari nol. Bahkan, bahasa Indonesia pun merupakan bahasa asing bagi mereka,” kata Henoch.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Budi Kurniawan, salah seorang pengajar di Universitas Kristen Petra membenarkan itu. “Semakin awal seseorang belajar bahasa, semakin baik hasilnya. Mungkin ini bisa dilihat dari pengalaman langsung anak saya,” katanya.

Budi yang saat ini juga tercatat sebagai seorang pengurus di Lembaga Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (LKPBT) Jawa Timur mengatakan, anaknya dibiarkan terekspos pada bahasa Mandarin sejak usia dua tahun karena bersekolah di Little Sun School, sekolah tiga bahasa di Surabaya dengan jenjang pendikan PG (playgroup), TK, SD, SMP dan SMA. Selepas TK, kata Budi, anaknya sudah pandai bahasa Mandarin.

Budi Kurniawan – Dosen bahasa mandarin Universitas Kristen Petra (Dokumentasi Pribadi)
Budi Kurniawan – Dosen bahasa mandarin Universitas Kristen Petra (Dokumentasi Pribadi)

Lebih jauh Budi mengatakan, banyak studi menunjukkan, kemampuan mempelajari bahasa asing berkurang seiring bertambahnya usia. Karena itu, dalam mempelajari bahasa, prinsip lebih awal lebih baik, sangatlah tepat.
Apalagi, kata Budi, bagi banyak orang Indonesia, Mandarin adalah bahasa yang tidak mudah dipelajari.

“Pertama itu tulisannya. Berbeda yah, terutama untuk orang Indonesia yang hanya mengenal 26 huruf dari A sampai Z, sementara Mandarin ini ada ribuan huruf, dan itu harus dihafalkan. Kedua, orang Indonesia tidak terbiasa dengan nada. Bahasa Mandarin adalah bahasa yang memiliki tone. Ada empat nada. Setiap syllable atau suku kata itu memiliki nada, dan itu berpengaruh terhadap makna. Sehingga nada ini juga harus dihapalkan,” jelasnya.

Sebuah studi yang dilakukan Tessa International School (sekolah multibahasa di New Jersey, Amerika Serikat) pada tahun 2022 menunjukkan, bahasa asing memang lebih mudah dipelajari pada usia dini. Para periset berargumentasi, anak-anak tidak hanya memiliki keunggulan kognitif terkait dengan usia, seperti plastisitas otak yang lebih tinggi, tapi juga karena memiliki cara mengadopsi bahasa baru yang sangat berbeda dengan orang dewasa.

Anak-anak, kata para periset, belajar secara implisit, melalui interaksi, nyanyian dan permainan. Mereka mendengarkan dan menirukan bunyi-bunyian seperti ketika belajar bahasa ibu mereka. Anak-anak kecil juga memiliki lebih sedikit keraguan dan lebih cenderung mengambil risiko tanpa khawatir akan dikoreksi. Mereka belajar karena keinginan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *