Preschool Berbahasa Mandarin Menjamur di Indonesia

  • Whatsapp
Fabian Lowing -- Direktur Champsville Preschool (Dokumentasi Pribadi)
Fabian Lowing — Direktur Champsville Preschool (Dokumentasi Pribadi)

Seperti halnya Rising Star, Champsville menggunakan tiga bahasa dalam dalam menjalankan program-programnya, yakni Indonesia, Inggris dan Mandarin — namun dengan penekanan pada dua bahasa yang disebut terakhir.

Sebagaimana preschool pada umunnya, baik di Rising Star maupun di Champsville, kegiatan anak-anak di sana lebih seperti bermain dan bersosialisasi, bukan belajar serius. Namun para guru di sana, dengan sabar membaurkan bahasa Mandarin dalam berbagai aktivitas. Tergantung kelas usia, anak-anak di sana hadir selama maksimal empat jam pada setiap pertemuan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menurut Fabian, di Champsville, anak-anak dikelompokkan dalam empat kelas berbeda — prenursery (2-3 tahun), nursery (3-4 tahun), K-1 (4-5 tahun) dan K-2 (5-6 tahun). Dua yang pertama, siswa diwajibkan hadir tiga kali seminggu, sementara dua sisanya lima kali semingggu.

Champsville, yang berlokasi di Pluit, Jakarta Utara, dan dibuka sejak tahun 2015, telah meluluskan sekitar 150 anak, sementara Rising Star di Surabaya, yang didirikan sejak 2010 – dan sempat tutup selama pandemi COVID-19 – telah meluluskan lebih dari 100 anak.

Biaya menyekolahkan anak di preschool yang menghadirkan bahasa Mandarin tidak murah. Champsville menetapkan biaya sekolah sekitar Rp4-5 juta per bulan per anak, sementara Rising Star sekitar Rp1 juta.

Siswa Champsville – Belajar bahasa mandarin melalui interaksi, nyanyian dan permainan (Dokumentasi Champsville)
Siswa Champsville – Belajar bahasa mandarin melalui interaksi, nyanyian dan permainan (Dokumentasi Champsville)

Menurut Henoch, biaya itu sesuai dengan fasilitas yang ditawarkan. Ia mengatakan, preschool yang menghadirkan native speaker bahkan menetapkan biaya yang jauh lebih tinggi. Ini karena lembaga pendidikan seperti itu perlu memberikan dukungan akomodasi, visa, dan gaji yang tidak kecil bagi para pengajar asing.

Meski tidak menghadirkan langsung native speaker dalam aktivitas keseharian, kata Fabian, sekolah yang dikelolanya selalu mengevalusi kurikulumnya secara rutin dengan bantuan sejumlah tenaga ahli dari China dan Taiwan.

“Kita ada kolaborasi dengan guru dari China dan Taiwan untuk mengevaluasi kurikulum kita dari tahun ke tahun, dan juga sharing ke guru-guru kita yang day-to-day ada di tempat, agar bisa men-deliver lesson secara lebih fun, menarik, engaging, yang bisa menarik perhatian murid-muridnya.”

Jeanny Maurine, seorang ibu yang anaknya bersekolah di Rising Star, mengaku senang dengan kemajuan yang dicapai anaknya dalam bahasa Mandarin di preschool itu. “Sejak bersekolah di Rising Star Preschool, anak saya jadi lebih percaya diri, lebih mandiri, serta membaca dan menulis (bahasa Mandarin) lebih lancar,” ujar Jeanny.