Prancis Akan Berlakukan Jam Malam di Mayotte

  • Whatsapp
Sebuah bukit yang hancur di wilayah Prancis Mayotte di Samudra Hindia, akibat hantaman Siklon Chido yang menyebabkan kerusakan besar di kawasan tersebut, Minggu, 15 Desember 2024. (Medecins du Monde via AP)

“Kami mulai kehabisan air. Di bagian selatan, tidak ada air mengalir selama lima hari,” kata Antoy Abdallah, warga Tsoundzou di ibu kota teritori itu, Mamoudzou. “Kami terputus sama sekali dari dunia,” keluh lelaki berusia 34 tahun itu.

Rumah-rumah yang hancur di wilayah Prancis Mayotte di Samudra Hindia, setelah pulau itu dihantam oleh topan terburuknya dalam hampir satu abad, dalam foto tidak bertanggal yang dirilis Selasa, 17 Desember 2024. (Ministere de l'Interieur/Gendarmerie Nationale via AP)
Rumah-rumah yang hancur di wilayah Prancis Mayotte di Samudra Hindia, setelah pulau itu dihantam oleh topan terburuknya dalam hampir satu abad, dalam foto tidak bertanggal yang dirilis Selasa, 17 Desember 2024. (Ministere de l’Interieur/Gendarmerie Nationale via AP)

Sebagian besar penduduk Mayotte adalah Muslim. Menurut ajaran Islam, mayat harus segera dimakamkan, yang berarti sebagian dari mayat itu mungkin tidak pernah dihitung.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Memperkirakan jumlah korban juga semakin rumit karena imigrasi ilegal ke Mayotte, khususnya dari Kepulauan Komoro di sebelah utaranya, yang berarti banyak warganya yang tidak tercatat resmi.
Secara resmi, Mayotte memiliki 320 ribu warga tetapi pihak berwenang memperkirakan mungkin ada 100 ribu hingga 200 ribu orang lagi, dengan memperhitungkan imigran ilegal.

Ousseni Balahachi, seorang mantan perawat, mengatakan, sebagian orang tidak berani keluar mencari bantuan, “karena khawatir ini akan menjadi perangkap” yang dirancang untuk menyingkirkan mereka dari Mayotte.

Banyak orang yang bertahan tinggal “hingga saat-saat terakhir” ketika ternyata sudah terlambat untuk menghindari topan tersebut, lanjutnya. [Red]#VOA