Prabowo Optimistis Indonesia Tidak Akan Impor Beras Tahun Depan

  • Whatsapp
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/12) meyakini Indonesia tidak akan impor beras pada tahun 2025. (Biro Setpres)

“Dulu pernah ada program sekolah pengendalian hama terpadu, sekarang sudah tidak ada. Jadi itu adalah pengamanan hama secara serempak dengan komunitas petani, tapi sudah tidak ada selama 10 tahun terakhir program seperti itu. Sehingga perlu digalakkan kembali program pengendalian hama terpadu yang betul-betul masif dijalankan,” jelasnya.

Kedua, ujarnya, meningkatkan kesejahteraan petani. Ia menilai tingkat kesejahteraan petani saat ini cenderung membaik. Hal ini terlihat dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan yang sudah mencapai 107 sesuatu yang menurut Dwi belum pernah terjadi selama 20 tahun terakhir. Berdasarkan data yang ada ia melihat bahwa NTP Tanaman pangan hingga September sudah mencapai 110.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

NTP Tanaman Pangan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Apabila NTP lebih dari 100 maka petani mengalami surplus. Namun, ujarnya, apabila NTP mencatatkan di bawah 100 menandakan petani mengalami defisit pendapatan.

Dwi juga berharap pemerintah fokus melakukan program-program yang potensi keberhasilannya tinggi termasuk mengelola atau mengolah lahan kering yang diperkirakan luasnya mencapai 14 juta hektar.

“Misalnya kan kita punya lahan kering 14 juta hektare, lahan sawah kita hanya 7,4 juta hektare. 14 juta hektare tersebut ada penduduknya, dan dimiliki oleh petani. Kalau bangun satu juta hektare di tengah hutan siapa yang mau mengelola? Jadi lahan-lahan yang existing yang masih berupa lahan-lahan kering konsentrasi saja di situ, sebagian mungkin bisa disawahkan dengan memperbaiki jaringan irigasi atau bikin jaringan irigasi ke wilayah yang bersangkutan. Kedua, ditanami padi gogo juga bisa,” jelasnya.

Maka dari itu menurutnya program-program di sektor pertanian yang selama ini dijalankan oleh pemerintah berulang kali selama puluhan tahun dinilai hanya membuang anggaran saja.

“Ada cetak sawah, brigade pangan, ada macam-macam yang gak jelas, semua perlu uang, uang dihambur-hamburkan untuk hasil yang saya pastikan gagal dan itu sudah 26 tahun terakhir,” pungkasnya. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *