“Kami berduka di sini. Kami tidak berbahagia selama Paskah ini. Ini tidak terasa seperti Paskah, seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Ini karena kami di sini kehilangan rumah, harta benda, anak-anak kami, dan segalanya,” ujar Winnie Tarazi, salah seorang umat Kristen dari Gaza.
Sementara itu, suasana perayaan Minggu Paskah di Bethlehem, tempat kelahiran Yesus Kristus, terasa suram. Misa Paskah di Church of the Nativity (Gereja Kelahiran), di wilayah pendudukan Tepi Barat, hanya dihadiri oleh puluhan umat.
Pada tahun-tahun sebelumnya, gereja itu biasanya penuh oleh jemaat dan turis yang merayakan kebaktian Minggu Paskah. Mereka pun sampai tumpah-ruah ke Alun-Alun Palungan Betlehem.
“Hari ini, kami merayakan Paskah di tengah-tengah suasana perang dan kenyataan pahit yang kami hadapi: pembunuhan, penghancuran dan sebagainya. Kami sangat membutuhkan doa-doa yang menenangkan dan menguatkan,” kata Rami Asakrieh, pastor dari Paroki Latin di Betlehem.
Paus Fransiskus menyerukan dilakukannya gencatan senjata segera di Gaza dan pembebasan semua sandera Israel. Hal tersebut disampaikan Paus dalam pidato Minggu Paskah, hari paling penting dalam kalender Kristen. Dalam pidato tersebut, Paus mengecam penderitaan yang disebabkan oleh perang.
Paus memimpin misa di Lapangan Santo Petrus yang dipenuhi jemaat dan dihiasi bunga. Ia kemudian menyampaikan pemberkatan dan pesan “Urbi et Orbi” atau pesan kepada kota dan dunia dari balkon tengah Basilika Santo Petrus.









