Pendidikan Saksi Pemilu: Memberdayakan Mata – Telinga Peserta Pemilu

  • Whatsapp
Para petugas di TPS dan saksi melihat kertas suara saat penghitungan suara di sebuah TPS di Jakarta Pusat, 9 April 2009. (Foto: REUTERS/Crack Palinggi)

Dana Terbatas

Khoirunissa menilai ketersediaan dana menjadi kendala utama bagi partai-partai politik untuk merekrut dan melatih saksi yang andal karena butuh dana yang tidak sedikit. Pasalnya, biaya saksi dibebankan kepada peserta pemilu.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Saksi itu kan diharapkan bukan hanya di TPS, tapi juga ada saat perhitungan. Perhitungan dimulai dari TPS, dibawa ke kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai nasional. Menyediakan saksi di setiap level ini kan costly (mahal),” papar Khoirunnisa tanpa memerinci jumlah dana yang dibutuhkan.

Hal ini dialami oleh Mulyanto. Pemilu kali ini adalah yang kedua kalinya bagi Mulyanto untuk menjadi saksi caleg PDIP. Sebelumnya, dia pernah menjadi caleg partai lainnya.

Seorang pendukung calon presiden Anies Baswedan dan calon wakil presiden Muhaimin Iskandar melakukan simulasi pemungutan suara dalam kampanye yang diselenggarakan oleh relawan pemuda di Jakarta pada 8 Februari 2024. (Foto: AFP)
Seorang pendukung calon presiden Anies Baswedan dan calon wakil presiden Muhaimin Iskandar melakukan simulasi pemungutan suara dalam kampanye yang diselenggarakan oleh relawan pemuda di Jakarta pada 8 Februari 2024. (Foto: AFP)

“Ya, saya akhirnya pilih jadi saksi PDIP karena partai yang sebelumnya gak amanah,” tutur Mulyanto tanpa mengungkap nama partai sebelumnya.

Dengan kondisi seperti itu, tak heran jika hanya segelintir partai-partai besar dengan tradisi akar rumput yang kuat, seperti PDIP, Golkar atau Partai Keadilan Sejahtera yang mampu memobilisasi saksi dalam jumlah besar. Sedangkan partai-partai kecil harus mengandalkan jaringan seadanya.

Ihamsyah, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Buruh, mengakui tradisi menawarkan imbalan uang bagi para saksi yang sudah mengakar menjadi salah satu kendala Partai Buruh dalam merekrut saksi. Apalagi, Partai Buruh sendiri berpedoman untuk tidak menggunakan pendekatan uang untuk memenangkan kontestasi pemilu.

“Bagi masyarakat pada umumnya, menjadi saksi itu adalah sarana untuk mendapatkan uang, bukan atas dasar keyakinan untuk mengawal suara partainya dalam rangka partisipasi politik. Mendapat uang 200 ribu atau 300 ribu itu sangat berharga bagi mereka, bisa untuk makan tiga hari satu keluarga,” kata Ilhamsyah kepada VOA melalui telepon, Senin (12/2).

Dia mengungkap para kader Partai Buruh kerap kesulitan merekrut kerabat sendiri untuk menjadi saksi karena mengaku sudah menerima bayaran dari partai lain. Sedangkan Partai Buruh, yang tahun ini perdana mengikuti pemilu, memang tidak menganggarkan dana untuk saksi seperti partai lainnya.

Pelatihan saksi pemilu Partai Buruh di kawasan Tanjung Priok, 11 Februari 2024. (Foto: Partai Buruh)
Pelatihan saksi pemilu Partai Buruh di kawasan Tanjung Priok, 11 Februari 2024. (Foto: Partai Buruh)

Dengan kondisi ini, Partai Buruh menargetkan bisa menempatkan saksi pada sekitar 60 persen dari jumlah seluruh TPS.

“Partai buruh sebagai alternatif yang merupakan antitesa partai yang menggunakan pendekatan uang dalam pemenangan, tidak mungkin mengikuti cara seperti itu,” kata Ilhamsyah.

Namun, imbuhnya, Partai Buruh terus mengupayakan pelatihan saksi bagi kader-kadernya, termasuk membuat aplikasi yang bisa membantu saksi memantau hasil rekapitulasi.

Melatih Saksi Setara KPPS

Khoirunnisa berpendapat bahwa saksi pemilu bisa saja tidak diperlukan jika KPU punya alat bantu teknologi untuk perhitungan suara yang bisa dibuka untuk umum.

KPU sendiri pada tahun ini mengembangkan aplikasi SIREKAP untuk membantu mempercepat rekapitulasi perhitungan suara. Namun, Khoirunnisa menilai persiapannya belum maksimal.

“Kalau itu (SIREKAP) bisa dan dibuka ke publik, ya tidak perlu saksi,” katanya.

Arif Bawono dari CBS menilai pelatihan saksi tetap diperlukan, setidaknya agar saksi punya kemampuan setara dengan anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *