H.Subandi juga mengatakan Kompetisi Inovasi Sidoarjo ini bukan hanya sekedar ajang adu gagasan. Namun tujuannya adalah memastikan bahwa seluruh inovasi yang dihasilkan menjadi referensi aktual dan valid dalam pengambilan kebijakan.
“Proses seleksi tahap satu yang dilanjutkan tahap dua adalah mekanisme kendali mutu kita untuk memastikan bahwa yang terpilih adalah inovasi yang komprehensif, teruji dan memiliki potensi replikasi yang tinggi,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa Pemkab Sidoarjo tidak akan membiarkan inovasi-inovasi terbaik akan berakhir di rak piala. Pemkab Sidoarjo berkomitmen untuk mengimplementasikan dan mengembangkan inovasi terbaik yang berdampak besar. Anggaran yang memadai akan dialokasikan untuk inovasi tersebut. Selain itu replikasi inovasi juga akan diterapkan pada perangkat daerah lainnya. Begitu pula dengan regulasi pendukung penyelenggaraan inovasi daerah berkelanjutan akan dibuat.
“Kita harus bergerak dari mentalitas kompetitor menuju mentalitas kolaborator, inovasi daerah dalam hal ini harus menjadi gerakan kolektif,” ajaknya.
Prof. Dr. Istianto dari Brida Jatim mengatakan inovasi merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Tanpa inovasi pelayanan publik akan stagnan. Inovasi juga harus berkelanjutan dan mempunyai impack terhadap kebutuhan masyarakat. Inovasi juga menjadi indikator reformasi birokrasi.
“Terima kasih atas inovasi kebaruan yang ada,” ucapnya.








