Menanggapi hal tersebut, Nalikan menekankan pentingnya langkah antisipatif dari pengelola dapur gizi. Ia meminta agar SPPG rutin melakukan survei harga pasar dan menyesuaikan menu tanpa mengurangi standar gizi. “Jika harga naik, segera lakukan penyesuaian. Ini bentuk pertanggungjawaban kita, apalagi menjelang hari raya ketika harga kebutuhan pokok biasanya melonjak,” tegasnya.
Memasuki bulan Ramadan, pola distribusi MBG juga mengalami penyesuaian. Menu siap santap dialihkan untuk berbuka puasa, sementara distribusi sempat terhenti pada 18–22 Februari dan kembali berjalan sejak 23 Februari dengan empat skema, termasuk paket take away. Selain biaya bahan baku, setiap porsi juga ditopang dana operasional Rp3.000 serta insentif fasilitas Rp2.000.








