Pemilih Muda Bersuara: Dari “Jangan Sampai Ada Otoritarianisme Baru” Hingga Anti-gimik

  • Whatsapp
Foto Thomas Lembong, Co-Captain TNP Anies-Muhaimin (foto: Rivan Dwiastono/VOA)
Foto Thomas Lembong, Co-Captain TNP Anies-Muhaimin (foto: Rivan Dwiastono/VOA)

Sementara itu, paslon 02 mengusung citra ‘gemoy’ sambil mengampanyekan “politik yang damai, politik yang santun,” kata Rahayu Saraswati. Lain lagi dengan paslon 03 yang mengedepankan autentisitas diri, karena menganggap pemilih muda paling menghargai nilai kejujuran.

Lantas, apa kata para pemilih muda?

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Shulhan Rumaru (34 tahun) lebih menghargai kandidat yang mengedepankan pemaparan gagasan.

“Menurut saya yang paling esensial juga ini bukan persoalan kampanye dengan gimik ataupun tidak, tapi bagi saya yang esensial adalah memperkaya perspektif publik dengan menyodorkan gagasan-gagasannya secara konkret, baik itu misalkan lewat media sosial atau tidak,” ungkapnya.

Sementara Nila Febrianti mementingkan pola pikir para kandidat.

“Sebagai Gen Z, aku bisa memahami nggak pola pikirnya? Bisa nggak program-program kerja yang dibuat itu menyesuaikan dengan kebutuhan kita?” jelasnya. “Apalagi nanti di 2045 kita akan mengalami bonus demografi, which is di sana generasi kita ini akan menjadi sumber daya manusia yang akan produktif.”

Pola pikir juga menjadi kualitas penting yang dicari Pinandito Wisambudi kali ini.

“Pola pikir gimana nanti mengambil sebuah kebijakan. Jadi, di balik pola pikir itu kan mereka punya ide-ide dan juga program-program yang mereka tawarkan untuk menjawab suatu permasalahan,” ujarnya.

Berbeda dengan Ambika, pemahaman isu dalam dan luar negeri menjadi kualitas unggulan yang ia harapkan.

“Seringkali ketika kita di dalam (negeri), kita tidak paham… Banyak sekali kadang isu-isu yang dipertontonkan kepada kita itu sebenarnya kurang sebegitu urgent, harusnya kita misalkan ngomongin masalah ‘oh, sekarang udah krisis,’ ‘oh, sekarang di luar sana pendidikan udah sedemikian rupa,’” kata Ambika.

Di antara keempat diaspora muda yang diwawancarai VOA, hanya Ambika yang sudah menentukan pilihan – itu pun dengan catatan bahwa “semuanya bisa berubah sampai detik-detik terakhir.”

Lembaga penelitian Populix mengamati hal tersebut. Mereka mengatakan, pemilih muda cenderung lebih rasional dibandingkan pemilih dari demografi yang lebih tua. Hal itu membuat mereka lebih kritis dalam membuat keputusan.

“Walaupun waktu pemilihan sudah semakin dekat, sebenarnya kemungkinan untuk pindah-pindah (pilihan) di generasi muda cenderung lebih tinggi, karena tadi kita lihat bahwa mereka lebih banyak membanding-bandingkan, mungkin lebih rasional, dan juga akses informasi yang lebih banyak itu membuat mereka mempunyai lebih banyak pilihan,” urai Nazmi Tamara, peneliti Populix, menjawab pertanyaan VOA dalam konferensi pers laporan survei pemilih muda dalam pemilu 2024 yang mereka lakukan Januari lalu.

Menurut survei CSIS, partisipasi politik pemilih muda mengalami kenaikan pada pemilu 2019 dibanding pemilu 2014, di mana 91,3% responden menyatakan menggunakan hak suara mereka pada tahun 2019, sementara hanya 85,9% yang mencoblos pada 2014.

Jumlah pemilih secara keseluruhan juga mengalami kenaikan pada pemilu serentak 2019, yaitu 81%, sedangkan pada 2014 sebesar 75,1% pada pemilihan legislatif dan 69,58% pada pemilihan presiden.[Red]#VOA