Pemilih Muda Bersuara: Dari “Jangan Sampai Ada Otoritarianisme Baru” Hingga Anti-gimik

  • Whatsapp

Saat ditanya apakah ia memiliki keprihatinan tersendiri yang diharapkan bisa menjadi fokus presiden baru nanti, ia menjawab, “konsolidasi demokrasi.”

Shulhan, yang menjadi peneliti muda di The Political Literacy Institute di Jakarta, menyoroti karut marut proses pencapresan yang dinilai “mengobok-obok” Mahkamah Konstitusi, serta berbagai isu tidak substantif yang membanjiri perdebatan publik.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Jangan sampai nanti ke depan ada penggembosan demokrasi lagi, sehingga ada pelanggaran-pelanggaran yang mungkin tidak hanya etik, tapi lebih dari itu, menggembosi demokrasi itu sendiri,” kata Shulhan. “Jangan sampai ada ruang yang dibuka untuk terjadinya otoritarianisme baru.”

Sementara itu, bagi Ambika Putri, 29 tahun, mahasiswi S2 jurusan rancangan dan teknologi pembelajaran di Universitas Georgetown yang asli Sidoarjo, Jawa Timur, penegakan hukum merupakan isu paling penting yang harus diperhatikan presiden berikutnya.

“Kalau kita punya fondasi hukum yang jelas, tidak akan ada yang namanya persepsi, asumsi, karena selama ini (orang) selalu memandang kayak ‘oh ini udah biasa sih,’ akhirnya korupsi dan lain-lain itu kayak ‘ya udah sih, memang (akan) dihukum kayak apa,’” ungkap Ambika kepada VOA (31/1). “Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa untuk menghormati apa yang mereka lakukan, karena mereka merasa kalau ‘toh (hukum) ini sudah tidak berfungsi.”

Acara diskusi di kalangan pemilih muda tentang isu-isu apa saja yang mereka pedulikan. (courtesy: Bijak Memilih)
Acara diskusi di kalangan pemilih muda tentang isu-isu apa saja yang mereka pedulikan. (courtesy: Bijak Memilih)

Sedangkan bagi Pinandito Wisambudi, 28 tahun, mahasiswa S2 jurusan kebijakan energi dan iklim di Universitas Johns Hopkins yang berasal dari Depok, Jawa Barat, transisi energi adalah isu prioritas. Pada kesempatan yang sama, ia mengaku kecewa pada para cawapres yang dianggapnya gagal menyampaikan pesan penting isu tersebut dalam debat cawapres kedua 21 Januari lalu.

“Saya agak menyayangkan, karena pesan yang tersampaikan itu lebih ke gimik-gimiknya para cawapres dibanding pesan transisi energinya, atau bagaimana mereka akan mencapai transisi energi nanti untuk Indonesia,” urai Tossy, sapaan akrab Pinandito, yang kini menjabat presiden Persatuan Mahasiswa Indonesia Seluruh AS (Permias) DC. “Ini masalahnya nanti untuk keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah negara, karena kita salah satu negara yang terdampak perubahan iklim yang cukup besar.”

Nila Febrianti, 24 tahun, diaspora muda asal Baubau, Sulawesi Tenggara, menuntut pemerataan akses pendidikan kepada presiden terpilih (foto: dok. pribadi).
Nila Febrianti, 24 tahun, diaspora muda asal Baubau, Sulawesi Tenggara, menuntut pemerataan akses pendidikan kepada presiden terpilih (foto: dok. pribadi).

Lain lagi dengan Nila Febrianti, 24 tahun, mahasiswi S2 Manajemen Komunikasi di George Washington University asli Baubau, Sulawesi Tenggara. Nila menggarisbawahi masalah ketimpangan akses pendidikan dan informasi – isu yang sangat dekat dengannya.

“Kualitas dari segi pendidikan, kemudian kebijakan publik yang ada di sana, itu masih belum terlaksana dengan baik. Implementasinya tidak seperti di daerah Pulau Jawa, karena aku ‘kan kuliah S1 di Jawa, tapi asal aku dari Kota Baubau. Aku mengalami ketimpangan itu yang sangat nyata, apalagi dibandingkan dengan di sini setelah aku pindah ke DC.”

Ia hanya berharap program kerja presiden terpilih nantinya bisa diterapkan merata sampai ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Ampuhkah Strategi Paslon Menggaet Suara Muda?

Meski sama-sama menekankan isu lapangan kerja, masing-masing timses memiliki strategi khusus untuk menggaet pemilih muda, yang mencakup generasi milenial dan generasi Z, yang pada pemilu kali ini berjumlah 107 juta pemilih, alias 52% dari total pemilih.

Menurut Tom Lembong, paslon nomor urut 01 menitikberatkan strateginya pada kampanye yang berorientasi pada gagasan dan imajinasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *