Pemerintah Resmi Luncurkan Golden Visa

  • Whatsapp
Presiden Jokowi secara simbolis menyerahkan Golden Visa kepada salah satu Global Talent terkemuka, Pelatih Timnas Sepak Bola Indonesia, Coach Shin Tae Yong, di Hotel Raffles, Jakarta. Kamis, 25 Juli 2024. (Biro Setpres)

“Kita ada kerja sama dengan interpol, dengan CEKAL (cegah tangkal,red) , dengan lembaga anti money laundering ini semua connect ke kita. Inilah yang kemudian menjadi dasar untuk kita seleksi. Terus kita juga monitor, jumlah uangnya bagaimana, terus apa yang mereka lakukan, kita juga punya jajaran yang membidangi intelijen dan pengawasan di samping kita kasih kita juga awasi, benar tidak, kalau semuanya aman ya baik-baik saja. Saya rasa itu hal bijak yang dilakukan agar kita tidak sembrono memberikan Golden Visa,” jelasnya.

Presiden Jokowi bersalaman dengan sejumlah Duta Besar dari negara sahabat yang hadir dalam Peluncuran Golden Visa di Hotel Raffles, Jakarta, (25/7), dan berharap para Dubes tersebut menyebarluaskan dan mensosialisasikan Golden Visa kepada negaranya masing-masing. (Biro Setpres)
Presiden Jokowi bersalaman dengan sejumlah Duta Besar dari negara sahabat yang hadir dalam Peluncuran Golden Visa di Hotel Raffles, Jakarta, (25/7), dan berharap para Dubes tersebut menyebarluaskan dan mensosialisasikan Golden Visa kepada negaranya masing-masing. (Biro Setpres)

Ekonom Indef Nailul Huda meragukan pemberian Golden Visa dapat menarik lebih banyak lagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Menurutnya, bisa saja investasi akan masuk ke tanah air dengan adanya fasilitas Golden Visa tersebut, namun tidak akan terlalu signifikan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Golden Visa mungkin akan diambil ketika orang itu sudah niat untuk berinvestasi di Indonesia, tetapi kehadiran Golden Visa tidak serta merta langsung ber-impact kepada keinginan untuk berinvestasi di Indonesia meningkat,” ungkap Nailul ketika berbincang dengan VOA.

Nailul juga memperingatkan kepada pemerintah jangan sampai nantinya Golden Visa ini menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kepemilikan berbagai aset oleh WNA, bukan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

“Ketika ada orang yang dapat Golden Visa baik itu individu maupun korporat, mereka memiliki fasilitas lainnya seperti kepemilikan aset seperti aset properti dan sebagainya. Jadi yang kita takutkan ketika Golden Visa diobral dan sebagainya, yang terjadi bukan untuk di investasinya yang meningkat, tetapi misalnya kepemilikan propertinya yang meningkat. Jangan sampai pemberian Golden Visa ini dimanfaatkan untuk hanya memiliki properti atau lainnya di Indonesia, karena fasilitas yang dimiliki oleh pemegang Golden Visa, selain tadi bebas keluar masuk Indonesia, terus kalau nggak salah untuk kepemilikan property dia diberikan fasilitas yang beda dengan WNA kebanyakan,” tegasnya.

“Saya tidak menentang itu, tetapi harus diberikan batas tertentu agar kepemilikan Golden Visa itu tidak menimbulkan efek negatif. Harus ada rambu-rambu disitu,” pungkasnya. [gi/ab]