Pemerintah akan Gandeng China Tanam Padi di Kalteng

  • Whatsapp
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan berbicara saat wawancara di kantornya di Jakarta, 8 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Seorang petani melemparkan pupuk ke sawah di sawah di Subang, Jawa Barat, 20 Januari 2011.(Foto: REUTERS/Beawiharta)
Seorang petani melemparkan pupuk ke sawah di sawah di Subang, Jawa Barat, 20 Januari 2011.(Foto: REUTERS/Beawiharta)

“Dua pos itu sekitar 75-80 persen dari total produksi biaya usaha tani. Ini yang membuat harga padi/beras Indonesia mahal dan tak kompetitif dengan Thailand atau Vietnam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Khudori menekankan pentingnya bagi pemerintah untuk membangun ekosistem yang mendukung pengembangan benih secara optimal. Salah satu langkahnya adalah dengan menetapkan harga yang wajar bagi petani karena benih yang berkualitas tentu akan memiliki harga yang tinggi.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Kalau penetapan harganya tidak rasional seperti sekarang, yang terjadi adalah benih yang tak terjamin alias ‘abal-abal’. Petani dirugikan. Di luar itu, inisiatif para pengembang benih (breeder) padi lokal yang merakit benih padi yang tahan genangan 21 hari dengan survival rate 90 persen atau benih dengan kelebihan-kelebihan lain adalah penting dan jauh lebih berguna. Karena benih ini memang dirakit untuk menjawab masalah yang ada dan riil di masyarakat petani,” jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Suryo Wiyono mempertanyakan teknologi apa yang akan dibawa oleh China. Menurutnya, alih teknologi dalam bidang apapun lumrah terjadi. Yang terpenting menurutnya adalah teknologi yang digunakan harus tepat guna dan bisa diadaptasikan dengan baik di Indonesia.

“Bagi saya adalah semuanya itu harus berdasarkan science-based policy. Jadi policy untuk menjamin keberhasilan dan keberlanjutan itu harus berdasarkan science. Kalau tidak ada basic science dan evidence based-nya itu akan tidak menjamin keberhasilan dan keberlanjutan,” ungkapnya kepada VOA.

Menurut Suryo, sampai saat ini, telah ada berbagai teknologi pertanian padi yang dikembangkan oleh para ahli di bidang pertanian nasional, termasuk di IPB. Menurutnya, hasilnya telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan produksi pangan nasional.

“Misalnya, kita IPB panen di Subang di kawasan 350 hektare produksinya 9,7 ton atau peningkatan produktivitasnya 32 persen. Dan kita juga punya rintisan untuk membuat padi gogo, kita sudah menanam di 30 hektare di Pati, Blora, Bojonegoro, dan lain-lain yang itu sudah menjadi potensi untuk memproduksi beras,” jelasnya

“Jadi, saling belajar itu perlu, kita tetap harus melihat keunggulan China, apa keunggulan Indonesia, dan lain-lain. Tetapi saya pikir kita juga tidak perlu menganggap bahwa satu negara atau kalau yang dari China itu selalu lebih unggul,” pungkasnya. [Red]#VOA