Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah Raih Zayed Award for Human Fraternity 2024

  • Whatsapp
Para penerima penghargaan Zayed Award for Human Fraternity 2024: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, Ahli bedah jantung Mesir Sir Magdi Yacoub, dan pemimpin akar rumput Sister Nelly Leon Correa dari Chili. (Facebook/humanfraternity)

“Beberapa tahun ini, kita telah melakukan perjalanan dan menyadari bahwa dengan menghormati budaya dan tradisi yang berbeda, kita membangun persaudaraan untuk mengatasi kebencian, kekerasan, dan ketidakadilan,” ujarnya seraya mengakhiri pesan video singkatnya dengan ajakan “teruslah menebar benih-benih harapan.”

Ketua Umum PBNU Bertekad Lanjutkan Persaudaraan Kemanusiaan

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Berbicara setelah menerima penghargaan itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, menyebut triologi konsep persaudaraan yang disampaikan Rois Am PBNU KH Ahmad Shiddiq dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah yang mendasari organisasi organisasi Nadhlatul Ulama untuk membangun solidaritas persaudaraan dan kemanusiaan.

“Kami bangga menerima penghargaan ini dan sebagai ketua umum saya bertekad akan terus memperjuangkan persaudaraan kemanusiaan di seluruh dunia,” tegas Gus Yahya.

Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF) menetapkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai penerima penghargaan tahun 2024. (Courtesy: muhammadiyah.or.id)
Zayed Award for Human Fraternity (ZAHF) menetapkan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai penerima penghargaan tahun 2024. (Courtesy: muhammadiyah.or.id)

Ketua PP Muhammadiyah Sebut Urgensi “Islam Berkemajuan”

Hal senada disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, yang menyampaikan rasa terima kasih dan mengatakan sejak terbentuk pada tahun 1912, “Muhammadiyah adalah gerakan Islamis yang didasarkan pada prinsip persaudaraan untuk semua umat manusia tanpa terkecuali… gerakan Islam moderat yang mempromosikan cara hidup bersama yang berpikiran terbuka, toleran, mengutamakan rasa kemanusiaan, dan lingkungan yang damai di tengah beragam agama, etnis dan budaya di Indonesia.”

Ditambahkannya, konsep baru “Islam berkemajuan” yang diusung Muhammadiyah saat ini mempromosikan lebih jauh “keadilan dan kemajuan bagi semua” di seluruh Indonesia, termasuk di daerah di mana Islam merupakan agama minoritas seperti di Papua dan NTT, lewat konsep “Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, atau agama yang menyebarluaskan benih kasih sayang, cinta dan damai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *