“Segala macam hal ada di museum. Museum itu bukan hanya sebagai gudang koleksi benda-benda tua, tapi juga gudang ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia mengakui masih ada beberapa museum yang belum berkembang baik, hanya mengandalkan koleksi yang ada. Namun, banyak di antaranya sudah mengalami transformasi ke arah yang lebih baik, dan lebih dari sekadar menyimpan benda-benda tua.
Ini dibenarkan oleh Yiyok T Herlambang, ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Daerah DKI Jakarta dan mantan kepala museum Bank Indonesia. Meskipun tidak menyertakan data persisnya, ia yakin bahwa sekarang ini minat untuk mengunjungi museum naik. Ini antara lain karena pihak pengelola museum sendiri mau berubah.
“Kita sudah berubah. Kalau dulu sekadar memamerkan koleksi. Koleksi dulu tidak berbicara secara audio visual, sekarang sudah berubah. Beberapa museum besar sudah berubah, penataan pameran, ada IT (teknologi informasi)-nya, ada AI (kecerdasan buatan), VR (realitas virtual),” kata Yiyok.
Menurut Statistik Kebudayaan 2023, di Indonesia ada tercatat 450 museum. Supaya berkembang menjadi ideal, apa yang harus sebuah museum miliki?
Bagi Dhanu, itu adalah museum yang memuaskan panca indra pengunjung. Selain itu, ada sifat interaktif antara koleksi museum dan pengunjung agar pesan-pesan koleksi bisa dikomunikasikan kepada masyarakat.
“Ketika kita masuk ke dalam museum itu wangi, tidak bau, tidak pengap, tidak lembab. Museum harus nyaman untuk pengunjung itu sendiri,” imbuhnya.
Menurut Jelita, yang juga bekerja sebagai marketing strategist, museum yang ideal sehingga diminati pengunjung adalah museum yang menerapkan teori marketing.
“Di teori marketing sudah sampai di 5.0, basically mengikuti kemauan customer. Museum, sama saja, harus lebih ke people oriented,” papar Jelita.
Ia mencontohkan, minat pengunjung seusia sekolah sewaktu ke Museum Nasional tentu berbeda dengan minat mereka saat dewasa. Kalau museum tidak berinovasi seiring waktu, pengunjung tidak akan merasa mendapatkan informasi atau nilai baru yang mereka inginkan.










