Menurut Sudarnoto, melalui niat tulus dan pendekatan yang inklusif, konstruktif, dan humanis, Retno dan Kalla berhasil menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai bangsa dan negara. Di saat tantangan dan masalah global makin komoleks dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang sangat mengkhawatirkan, kontribusi Retno dan Klla terasa makin relevan, jelasnya.
Dia menyebutkan saat ini aliansi global di kalangan masyarakat sudah mulai bergerak dan mengoreksi total tatanan dunia yang kian tidak adil dan berkeadilan. Dalam konteks inilah, Retno dan JK terus merakit asa diplomasi untuk dunia yang damai, sejahtera, dan beradab.
Pada kesempatan itu, Menlu Retno Marsudi mengatakan isu Palestina sangat kental diangkat dalam dunia internasional, termasuk dalam partisipasinya di Sidang Majelis Umum (SMU) PBB ke-79 di New York yang baru saja dihadirinya.
Indonesia, ungkapnya, termasuk negara yang berada di garis depan dalam membela perjuangan bangsa Palestina. Diplomasi Indonesia lanjutnya memilih untuk berpihak pada keadilan dan kemanusiaan serta membela kebenaran.
Retno juga menjelaskan fokus utama yang diperjuangkan Indonesia selama SMU PBB minggu lalu. “Pertama, terus menggalang negara-negara untuk mengakui negara Palestina. Pengakuan ini akan menempatkan Palestina dalam posisi sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Pengakuan ini akan memberikan harapan bagi bangsa Palestina dan pengakuan ini juga merupakan cara menekan Israel agar segera menghentikan kekejamannya terhadap bangsa Palestina,” ujar Retno.
Retno mengatakan situasi Palestina memang sangat mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan, sudah lebih 41,7 ribu orang terbunuh di Palestina –15 ribu di antaranya adalah anak-anak. Selain itu lanjutnya, lebih dari 10 ribu orang tertimbun, lebih dari 90 ribu orang terluka dan 70 persen perumahna di Gaza hancur.
Ia juga mengatakan, bukan saja masyarakat sipil yang menjadi target, tapi juga pekerja kemanusiaan. Hingga saat ini, menurutnya, 220 pekerja kemanusiaan telah kehilangan nyawanya.
Menurut Kalla, keberanian yang ditunjukkan para pejuang Palestina dalam memperjuangkan keadilan melawan Israel tidaklah cukup.








