Isa menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak, sementara guru menjadi figur orang tua kedua yang membimbing dengan cinta dan keteladanan. Oleh karena itu, MPLS harus dirancang sebagai ruang adaptasi yang aman dan inspiratif—bukan ajang perpeloncoan atau formalitas semata.
Lebih jauh, Isa menggarisbawahi filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai arah kebijakan pendidikan di Surabaya. Konsep seperti Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani diharapkan menjadi napas pendidikan inklusif yang membangun karakter dan semangat kemandirian.
Menurut Isa, Kota Surabaya telah mulai menerapkan pendekatan mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning dalam pelaksanaan MPLS. Pendekatan ini diyakini mampu menciptakan proses belajar yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.








