Menkeu: APBN Masih Catat Surplus Rp75,7 Triliun
Menkeu menjelaskan, adapun pendapatan negara yang bersumber dari pajak mencapai Rp 624,19 triliun atau 31,38 persen dari target APBN 2024. Ia merinci PPh Non Migas tercatat mencapai Rp377 triliun, PPN & PPnBM Rp218,50, PBB & pajak lainnya Rp3,87 triliun, dan PPh Migas Rp24,81 triliun. Lalu penerimaan negara dari sisi bea dan cukai mencapai Rp95,7 triliun.
Sementara itu, untuk belanja negara sampai dengan akhir April tercatat Rp849,2 triliun atau setara dengan 25,5 persen dari pagu anggaran 2024. Menurutnya, terdapat peningkatan belanja negara sebesar 10,9 persen dari periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Dengan demikian APBN masih mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp237
Ekonomi Global Tetap Berpotensi Timbulkan Dampak
Meskipun kinerja anggaran negara ini masih positif, namun Menkeu Sri menekankan bahwa APBN masih bisa terpengaruh oleh kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu dan kondisi geopolitik yang belum mereda.
Ia mencontohkan perang di Gaza yang kembali memanas setelah masuknya pasukan Israel ke Rafah. Juga perang dagang Amerika dan China. Kedua hal ini ditengarai berdampak cukup besar.
“Berbagai berita menunjukkan bahwa fragmentasi dan breaking down dari world rule atau hukum global itu terjadi, dan dampaknya pasti akan sangat besar di dalam perekonomian global. Di dalam rantai pasok global akan makin rentan, seperti adanya penerapan tarif empat kali lipat dari Amerika terhadap barang-barang RRT seperti produk electric vehicle,” jelasnya.
Meski kondisi global masih tidak menentu, Indonesia kata Menkeu harus bersyukur ekonomi masih bisa tumbuh 5,11 persen di kuartal-I 2024 ini. Menurutnya, hal ini berkat masih tingginya permintaan, konsumsi rumah tangga, investasi dan bahkan ekspor yang mulai tumbuh positif dengan dukungan dari belanja pemerintah yang masih kuat.








