Menkeu: APBN Defisit Rp93,4 Triliun per Juli 2024

  • Whatsapp
Menkeu Sri Mulyani mengatakan Kinerja APBN pada Juli 2024 yang defisitnya makin melebar disebabkan faktor eksternal seperti pelemahan ekonomi AS dan China dan geopolitik yang memanas. (VOA/Ghita Intan)

“APBN kita gunakan juga, tetapi APBN bukannya immune ya, bukannya dia tidak terpengaruh oleh situasi, pasti terpengaruh. Namun kita akan coba terus sebagai instrumen yang kredibel, sustainable, dan efektif untuk menjadi shock absorber, bemper, menjadi country siclical,” tambahnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan turunnya penerimaan negara sehingga berimbas defisit ini disebabkan karena pendapatan yang terkontraksi di berbagai sektor. Josua menjelaskan, ada beberapa sektor yang masih berkontribusi dengan baik terhadap penerimaan negara seperti pajak penghasilan (PPh) yang masih tumbuh dengan baik. Namun, sektor-sektor lain seperti pertambangan dan pengolahan terkoreksi, lanjutnya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Selain itu, ia menilai belanja pemerintah tahun lalu tidak semasif tahun ini. Apalagi, lanjutnya, tahun 2024 ada penyelenggaraan pemilu presiden dan wakil presiden yang menyebabkan belanja pemerintah naik secara signifikan.

“Jadi defisit tahun ini memang akan cenderung meningkat dibandingkan dengan defisit tahun lalu yang hanya kurang dari dua persen,” ungkap Josua.

Meski defisitnya kian melebar seperti yang sudah dipaparkan oleh Menkeu sebelumnya, kata Josua, pemerintah tidak akan melakukan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi negara untuk “menambal” defisit anggaran negara tersebut, melainkan menggunakan saldo anggaran lebih (SAL). Hal tersebut, katanya, akan berdampak baik pada peringkat utang Indonesia dan penguatan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini sudah berada di bawah Rp16.000 per USD.

Ia pun memperkirakan defisit APBN 2024 akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan target yang sudah dipatok oleh pemerintah di level 2,29 persen.

“Ini menggambarkan bahwa investor akan melihat defisit kita yang semestinya atau for sure akan melebar dibandingkan 2023 karena belanjanya meningkat tajam di tahun ini. Artinya, meskipun kita lihat nanti Pilkada sebagian ada yang dibiayai oleh hibah juga, jadi artinya tidak mengganggu belanja pemerintah pusat. Oleh sebab itu mungkin forecast dari kita untuk akhir tahun ini, defisit mestinya masih akan berkisar di kisaran 2,5-2,6 persen,” pungkasnya. [Red]#VOA