Mengapa Pariwisata Indonesia Tertinggal Jauh dari Singapura?

  • Whatsapp
Wisatawan menikmati indahnya suasana matahari terbenam di Pantai Canggu, Bali, 2 Desember 2021. (Johannes P. Christo/REUTERS)
Bromo Festival 2024 di Lautan Pasir Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. (Courtesy Kemenparekraf)
Bromo Festival 2024 di Lautan Pasir Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. (Courtesy Kemenparekraf)

Sementara promosi wisata Indonesia masih memiliki kelemahan, tambahnya. “Promosi ini yang harus lebih digencarkan lagi. Gaya promosi yang lama-lama sudah harus ditinggalkan! Contoh kita (Indonesia.red) sering melakukan promosi kebudayaan ke luar negeri, ke mana-kemana, tetapi sifatnya, ya sudah, mengadakan pertunjukan tari-tarian dalam pameran. Begitu didatangi dan ditanya orang, tidak ada paket wisatanya.”

Ia mencontohkan bagaimana saat promosi kebudayaan atau acara-acara khusus, banyak negara membuat beragam paket wisata yang bahkan bisa langsung dipesan saat itu juga.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kelemahan lain, kata Fajar, adalah kurangnya memanfaatkan media sosial dan pemengaruh (influencer).

Kemenparekraf Galakkan Pembenahan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan untuk menarik 14,3 juta wisatawan manca negara termasuk 1,5 juta wisatawan asal China, pada tahun 2024 ini. Selain mempersiapkan destinasi pariwisata super prioritas seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah, Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Likupang di Sulawesi Utara, Labuan Bajo di NTT, dan Mandalika di NTB; pemerintah juga menggerakkan ribuan obyek wisata lain.

Bentangan Danau Toba di Kabupaten Dairi Sumatera Utara. (Courtesy of Kemenparekraf)
Bentangan Danau Toba di Kabupaten Dairi Sumatera Utara. (Courtesy of Kemenparekraf)

Untuk meningkatkan daya saing di ASEAN, Kemenparekraf menyederhanakan berbagai aturan dan mengurangi pajak hiburan.