Sementara Fajar Akbar, seorang pemimpin tur yang sudah berpengalaman memimpin perjalanan ke manca negara, menilai harga tiket penerbangan ke Singapura yang lebih murah dibanding tiket penerbangan domestik, membuat tidak saja warga dunia seperti warga China, tetapi juga warga Indonesia sendiri, lebih memilih terbang ke negeri kota itu dibandingkan ke Jakarta atau Bali.
“Kalau bapak melihat salah satu contoh dari Pekanbaru itu ya, ibu-ibu yang sering ke Singapore, karena satu, dari jarak lebih dekat dari Pekanbaru ke Singapore dibandingkan ke Jakarta. Yang kedua soal tiket, Pak! Ini yang masih menjadi masalah di kita, lebih murah tiket ke luar negeri dalam hal ini Singapore dari pada dari Pekanbaru ke Jakarta atau ke Bali. Jadi orang berpikir mendingan saya ke luar negeri,” komentarnya.
Asril Azhar juga menyoroti perluasan program pariwisata secara terus menerus yang dilakukan pemerintah Singapura untuk membuat negara berpenduduk sekitar 5,6 juta jiwa ini tetap menarik. Di Orchard Road sepanjang 2,2 kilometer saja, saat ini terdapat lebih dari 5.000 toko, bar dan restoran yang memberi begitu banyak pilihan untuk para wisatawan.
“Nah, kemudian ada lagi yang dikembangkan oleh mereka itu yang disebut beyond shopping in mall, jadi sesuatu di luarnya. Ada sesuatu yang lebih kalau belanja, marilah belanja di Singapore, tetapi Anda tidak shopping saja ada hal yang lainnya yang dirasakan pengunjung.”
Hal lain itu, tambah Azril, adalah kenyamanan dan keamanan ketika berbelanja, berbagai festival yang menawarkan potongan diskon dan keunikan khusus, dan terjaganya multi-kulturalisme.
“Sekarang paradigmanya, terutama wisatawan Indonesia jalan-jalan ke luar negeri itu bukan lagi untuk belanja sih pak, tetapi lebih kepada eksistensi. Sekarang ada medsos, jadi mereka pengen upload di medsosnya, terus apa namanya, check in, sedang di sini, sedang di sana. Itu menjadi salah satu alasan orang-orang Indonesia lebih memilih Singapore dari pada Indonesia,” jelas Fajar.









