Maknai Kemerdekaan dengan Kebermanfaatan, Buku ‘Hidup Berkah’ Pikat Perhatian Akademisi Lamongan

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN — Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 menjadi momen istimewa bagi dunia literasi Tanah Air. Bertepatan dengan hari bersejarah tersebut, karya terbaru Muhammad Wahid, S.Pd.I., Gr., M.Pd., yang berjudul “Hidup Berkah: Menjadi Manusia Bermanfaat bagi Masyarakat, Agama, dan Bangsa” resmi diluncurkan dan langsung mendapat sambutan hangat dari kalangan akademisi.

Rektor Universitas Islam Lamongan (Unislam), Dr. H. Abdul Ghofur, M.Si., secara khusus memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran buku tersebut. Dalam ulasan mendalamnya bertajuk “Seutas Asa untuk Usia 81 Kemerdekaan Bangsa Indonesia”, ia menilai buku ini membawa pesan substantif yang sangat relevan dengan dinamika zamannya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Di tengah kehidupan modern yang kerap mengukur kesuksesan dari pencapaian materi, jabatan, dan popularitas, buku ini hadir mengajak kita merenungi orientasi hidup yang lebih mendalam. Kehidupan baru memperoleh makna sejati ketika potensi yang kita miliki mampu mendatangkan kemaslahatan bagi sesama,” ujar Dr. Abdul Ghofur di Lamongan.

Menurut Abdul Ghofur, terbitnya buku ini bertepatan dengan momentum kemerdekaan memberikan penegasan filosofis bahwa kemerdekaan tidak sekadar perayaan seremonial sejarah. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah ruang bersama untuk berkarya dan berkontribusi nyata.

“Mengisi kemerdekaan berarti menyelesaikan persoalan di sekitar kita. Bagi masyarakat, itu berarti empati; bagi agama, itu mewujud dalam akhlak dan kedamaian; sedangkan bagi bangsa, itu adalah komitmen memajukan Indonesia melalui ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa menjadi manusia yang bermanfaat tidak selalu harus berawal dari tindakan besar, melainkan dari konsistensi melakukan hal-hal sederhana secara tulus—seperti mendidik dengan keteladanan, bekerja secara amanah, dan hadir saat orang lain membutuhkan.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Rektor Unislam ini mengingatkan bahwa penguatan karakter manusia menjadi jauh lebih krusial.

“Teknologi memang bisa membuat manusia bekerja lebih cepat dan produktif, tetapi tidak otomatis membuatnya lebih bijaksana. Masa depan bangsa membutuhkan figur yang tidak hanya cakap (capable), melainkan juga memiliki kebermaknaan (meaningful) serta kepedulian sosial,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar dunia pendidikan perguruan tinggi tidak hanya fokus mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan memiliki kepekaan sosial.

Menanggapi apresiasi positif dari pimpinan kampus Unislam, penulis buku Muhammad Wahid menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya. Ia berharap gagasannya dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan.

“Alhamdulillah, gagasan yang saya tuangkan dalam buku ini mendapat apresiasi langsung dari Pak Rektor. Ini menjadi motivasi dan validasi besar bagi saya. Semoga karya ini bisa menjadi amal jariyah dan menginspirasi masyarakat luas untuk terus menyebarkan kebaikan,” tuturnya.

Kehadiran buku “Hidup Berkah” diharapkan dapat memantik semangat baru bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan Indonesia melalui aksi nyata, karya literasi, dan pengabdian masyarakat. [WHD]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *