Kendalikan Jumlah Penduduk, BKKBN Gencarkan Program Vasektomi Gratis dengan Insentif Uang
“Kadang-kadang ada salah informasi, ada yang bilang kalau vasektomi ini seperti dikebiri, padahal beda banget. Kalau dikebiri itu testisnya diambil, kalau vasektomi tidak. Ini cuma mengikat saluran saja sehingga untuk laki-laki dan nanti akan tetap mengeluarkan cairan, tetapi cairan yang dikeluarkan tidak ada spermanya. Jadi sebetulnya seperti itu sehingga tidak ada efek samping, seperti misalnya kalau pakai obat kan saja suatu hari ada efek samping karena tidak cocok dengan obat,” jelasnya.
Edukasi dan sosialisasi, tambah Hasto, merupakan faktor penting untuk membuka mata kaum laki-laki mengenai arti pentingnya mengikuti program keluarga berencana untuk mengendalikan jumlah penduduk.
Selain itu, BKKBN juga membuat program vasektomi gratis dengan insentif.
Sebenarnya pemberian insentif bagi laki-laki yang mau melakukan vasektomi tersebut tidak hanya dilakukan oleh BKKBN saja. Ada beberapa kepala daerah yang bahkan memberikan insentif lain untuk mendorong program pengendalian jumlah penduduk ini. Menurut Hasto, hal ini mendapatkan respons yang cukup positif.
“Contoh, waktu saya menjadi bupati di Kulonprogo. Kalau mau vasektomi, saya berikan kambing satu ekor. Itu akhirnya berduyun-duyun, kita menargetkan hanya 26 pria misalnya, yang datang bisa 100 lebih karena istilahnya stimulan itu penting. Mereka ini sensitif terhadap pemberian modal seperti kambing, sehingga ini sebetulnya membangkitkan motivasi dan kesadaran untuk peran pria ber-KB,” jelasnya.
Pihak TNI/Polri, yang juga ikut melibatkan personelnya untuk program ini, ikut menjadi motivator program keluarga berencana bagi laki-laki tersebut. Saat ini jumlah laki-laki yang berkenan divasektomi mulai beranjak naik, dari nol koma persen menjadi sekitar 2,5 persen.








