Meski begitu, Jokowi mengimbau para pelaku industri lokal untuk tidak mudah menyerah. Pada saat ini, ujar Jokowi, pemasaran tidak hanya bisa dilakukan dengan cara konvensional sehingga selalu ada peluang yang terbuka.
“Sekarang sudah eranya digital, kita harus masuk secara masif ke sana, untuk memasarkan produk-produk negara kita. Saat banyak negara melakukan restriksi akibat perang dagang, menurut saya di situ ada peluang. Saat banyak negara mengalami inflasi tinggi, menurut saya di situ juga ada peluang,” tegasnya.
Mengapa Produk Impor China Bisa Murah?
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan banyak faktor yang menyebabkan produk China tidak hanya merajai Indonesia, tetapi juga negara-negara lain. Josua mengatakan dari sisi produksi, pelaku industri di sana diberikan berbagai insentif oleh pemerintahnya sehingga bisa menghasilkan skala produksi yang besar dengan cara efisien.
Selain itu, China juga didukung dengan teknologi dan inovasi yang mumpuni, serta kualitas SDM yang lebih baik, sehingga produktivitasnya terjaga dengan baik. Walhasil, biaya bisa ditekan, dan produk dapat ditawarkan dengan harga lebih rendah.
“Jadi kita melihat, produk-produk manufaktur kita perlu ditingkatkan kualitasnya, lalu peningkatan investasi dan produktivitas dari sektor manufaktur kita karena itu sebenarnya kata kuncinya, selain bicara logistic cost, labor cost tapi juga kita bicara investment. Kalau kita bicara tekstil garmen, mesin-mesin kita dikatakan sudah usang dan itu menjadi salah satu faktor yang membuat produk-produk kita menjadi tidak kompetitif sehingga kalah pasarnya dengan produk-produk tekstil misalnya dari Bangladesh, India ataupun China,” ungkap Josua ketika berbincang dengan VOA.
Ekonom Indef Nailul Huda mengatakan, banjirnya produk impor murah dari China tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang justru mempermudah barang-barang itu masuk ke tanah air.








