“Berarti memang itu tidak ada akses sama sekali, karena kalau kita lihat wilayah perbatasan dan wilayah operasi militer Israel, berarti ada permasalahan di jalur darat yang itu tidak bisa dilewati oleh bantuan kemanusiaan. Sehingga opsi untuk melakukan airdrop menjadi satu opsi yang paling rasional untuk memasukkan bantuan kemanusiaan untuk sampai ke Gaza. Ini menunjukkan juga bahwa situasinya semakin memburuk akibat dari perang yang terjadi,” ungkap Agung.
Indonesia dan sejumlah negara, katanya, memang sudah berupaya untuk ikut membantu menyelesaikan permasalahan ini. Indonesia, lewat Menlu Retno LP Marsudi sejak awal perang ini pecah selalu mengupayakan jalur diplomatik dan kemudian menempuh jalur legal akhir-akhir ini, bersamaan dengan terus menyalurkan bantuan kemanusiaan.
Dengan kata lain, ujar Agung, berarti semua jalur sebenarnya sudah ditempuh oleh semua negara namun belum membuahkan hasil yang signifikan. Menurutnya, langkah selanjutnya yang mungkin dapat dilakukan adalah memaksimalkan peran aktor-aktor internasional. salah satunya Amerika Serikat untuk kemudian bisa melakukan tekanan yang lebih kuat terhadap Israel.
“Artinya (kalau) jalur-jalur diplomatik tidak bisa, kemudian dilakukan jalur legal yang cukup masif . Tapi tetap jalur diplomatik harus di dorong termasuk juga kemarin upaya diplomatik yang sempat deadlock, untuk upaya gencatan senjata. Tapi dengan fenomena adanya airdrop ini sebenarnya menjadi sinyal bahwa kondisinya semakin memburuk, semakin mengkhawatirkan,” tuturnya.
“Artinya aktor-aktor internasional perlu kemudian secara lebih masif dan eksklusif untuk memastikan bagaimana caranya secara regular bantuan kemanusiaan bisa masuk, dan memastikan bahwa aktor seperti Israel pun tetap memberikan satu garansi utama terhadap bantuan kemanusiaan untuk bisa sampai ke masyarakat Gaza,” pungkasnya. [Red]#VOA








