“Daya tahan PDIP untuk menjadi oposisi kan sudah terbukti, dulu masa orde baru. Lalu di zaman pemerintahan presiden SBY juga oposisi. Jadi DNA-nya PDIP DN oposisi, walaupun pernah juga berkuasa dalam konteks 10 tahun terakhir, walaupun ada hubungan yang tidak baik dengan Jokowi. Dalam hal itu saya melihat satu-satunya partai yang siap beroposisi kelihatannya hanya PDIP,” jelasnya.
“Jadi kalau koalisi pemerintahannya kuat, oposisinya lemah, tidak akan ada pengawasan yang kuat, tidak akan ada kontrol yang kuat sehingga kekuasaan akan cenderung bisa saja disalahgunakan. Dalam konteks itu maka agar ada keseimbangan, untuk menjaga demokrasi maka perlu oposisi yang kuat dan tangguh. Persoalannya apakah, akan ada parpol yang mau menjadi oposisi? Mungkin sedikit, karena menjadi oposisi itu menderita, cenderung dikerjai, cenderung dicari-cari kasus hukumnya,” jelasnya.
“Tapi dalam konteks untuk menjaga demokrasi agar sehat, agar ada perimbangan kekuasaan, maka oposisi menjadi sebuah keniscayaan yang harus ada untuk mengontrol jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran ke depan,” pungkasnya.
Sementara paslon nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sebelumnya diusung oleh tiga parpol yakni Nasdem, PKS dan PKS.
Paslon nomor urut 03 Ganjar Pranowo-Mahfud MD diusung oleh empat parpol yakni PDIP, Partai Persatuan pembangunan (PPP), Partai Perindo dan Partai Hanura.
Hingga Senin malam (19/2) peroleh suara Prabowo-Gibran masih mendominasi hasil quick count yang dimutakhirkan oleh KPU, serta dirilis sejumlah lembaga survei. Paslon nomor urut 2 meraih 56,61 persen suara versi KPU. [Red]#VOA







