Jawa Tengah: “Kandang Banteng” yang Terbelah
“Setiap Mas Ganjar datang selalu ada yang ngintili. Hari ini Mas Ganjar akan datang menemui kita, kemarin sudah ada yang ngintili,” kata Butet di tengah acara yang disiarkan langsung secara daring ini.
Ngintili adalah kata dalam bahasa Jawa yang kurang lebih bermakna membuntuti.
Jokowi beralasan, acara main sepak bola dengan anak-anak di lokasi dan pada hari yang berdekatan dengan kampanye akbar PDIP itu tidak memiliki maksud politik.
“Ya, ini pertama, untuk menyambut masuknya timnas kita ke 16 besar Piala Asia, dan kita ingin memberikan semangat kepada rakyat untuk memberikan dukungan penuh besok bertandingnya antara Indonesia dan Australia. Kita harapkan kita mendapatkan poin dari sana sehingga bisa melaju ke babak berikutnya. Saya kira, yang kedua, kita ingin dengan masyarakat bergembira semuanya, juga untuk sekali lagi memberikan dukungan kepada timnas kita,” ujar dia dalam laman resmi kepresidenan.
Di Magelang, Jawa Tengah, sehari setelah kampanye PDIP, Jokowi bahkan menggelar acara bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang maju sebagai capres bersama anaknya, Gibran Rakabuming Raka.
Seusai meresmikan gedung Graha Utama di kompleks Akademi Militer, Jokowi dan Prabono menikmati bakso di salah satu warung kecil, di kota itu.
Jokowi juga tidak mau menyinggung soal politik dalam acara itu.
“Mengobrolkan bakso, mengobrolkan kelapa muda, mengobrolkan tahu goreng, enak enggak, begitu,” kata dia ketika ditanya apa yang dibicarakan bersama Prabowo.
Jawa Tengah nampaknya setia pada Jokowi dalam soal pemilihan presiden, meski belum bisa ke lain hati jika terkait partai politik.
Dukungan besar itu nampaknya berhasil dia alihkan ke Prabowo-Gibran kali ini.
Gerilya Jokowi di Jawa Tengah kali ini, diakui atau tidak, memberi dampak para perolehan suara Prabowo-Gibran yang memporak-porandakan kandang banteng. [Red]#VOA








