LAMONGAN – DN | Setiap kali musim tanam benih ikan tiba, wajah Bengawan Jeroh berubah. Sungai yang seharusnya menjadi nadi kehidupan bagi ribuan petambak di enam kecamatan Lamongan itu, justru dipenuhi hamparan hijau enceng gondok. Dari kejauhan, tanaman air itu tampak indah, tetapi bagi warga, ia adalah mimpi buruk yang datang berulang.
Heri, seorang petani tambak dari Glagah, menghela napas panjang saat perahunya kembali tersangkut gulma air. “Iki yaopo, masak tiap tahun kita dipusingkan dengan enceng gondok,” keluhnya. Baginya, enceng gondok bukan sekadar tanaman liar, melainkan penghalang rezeki. Perahu yang menjadi satu-satunya akses menuju tambak tak bisa melintas, sementara air yang tercemar membuat benih ikan terancam gagal tumbuh.
Di tepian sungai, anak-anak desa masih bermain, berlari di atas jembatan bambu. Namun, orang tua mereka gelisah. Air yang keruh dan berbau membuat warga khawatir akan kesehatan lingkungan. “Kalau dibiarkan, enceng gondok bisa melumpuhkan usaha tambak tahun ini,” kata Heri dengan nada getir.










