Bagi Hartanto, pers yang sehat bukanlah sekadar jargon. Ia adalah napas panjang yang harus dijaga dalam setiap proses jurnalistik—dari liputan lapangan hingga ruang redaksi. “Jadilah agen kebenaran yang sebenar-benarnya… bukan hanya lip service,” katanya, dengan nada yang lebih menyerupai ajakan moral daripada pidato seremonial.
Di antara para jurnalis yang hadir, suasana berubah. Seruan itu bukan hanya ditujukan kepada institusi media, tetapi kepada setiap individu yang memegang pena, kamera, dan mikrofon. Hartanto mengingatkan bahwa pers bukan hanya penyampai informasi, tetapi penjaga demokrasi dan suara rakyat.
“Pers yang sehat menjadi pilar penting dalam menegakkan demokrasi, mendukung ekonomi berdaulat, serta memperkuat fondasi bangsa,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pers menghadapi tantangan berat: disinformasi, tekanan politik, dan komersialisasi ruang redaksi. Di tengah arus tersebut, Hartanto mengajak insan pers untuk kembali ke akar: etika, akurasi, dan keberpihakan pada publik.








